Rabu, 20 November 2019

BAB II Part 1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Konsep Dasar
1.      Kehamilan
a.      Pengertian Kehamilan
Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi menjadi 3 trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua berlangsung dalam 15 minggu ( minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga 13 minggu ( minggu ke-28 hingga ke-40). (Prawirohardjo,2016 h:213)
b.      Tujuan Asuhan Kehamilan
1)      Memantau kemajuan kehamilan, memastikan kesejahteraan ibu dan tumbuh kembang janin.
2)      Meningkatkan dan memepertahankan kesehatan fisik, mental, serta social ibu dan bayi.
3)      Menemukan secara dini adanya masalah/gangguan dan kemungkinan komplikasi yang terjadi selama masa kehamilan.
4)      Mempersiapkan kehamilan dan persalinan dengan selamat, baik ibu maupun bayi, dengan trauma seminimal mungkin.
5)      Mempersiapkan ibu agar masa nifas dan pemberian ASI eksklusif bejalan normal.
6)      Mempersiapkan ibu dan keluarga dapat berperan dengan baik dalam memelihara bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara normal (Sulistyawati, 2016).
c.       Standar Asuhan Kehamilan
1)      Kunjungan Ante-natal Care (ANC) minimal:
a)      Satu kali pada trimester I ( usia kehamilan 0-13 minggu)
b)      Satu kali pada trimester II ( usia kehamilan 14-27 minggu)
c)      Dua kali pada trimester III ( usia kehamilan 28-40 minggu) (Sulistyawati, 2013 h.4).
2)      Pelayanan Antenatal
Pelayanan antenatal sesuai standar meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan), pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus (sesuai resiko yang ditemukan dalam pemeriksaan).
Dalam penerapannya terdiri atas:
a)      Timbang berat badan (BB)
b)      Ukur Lingkar Lengan Atas.
c)      Ukur Tekanan Darah
d)     Ukur tinggi fundus uteri
d)     Tentukan presentasi janin
e)      Tentukan denyut jantung janin (DJJ).
f)       Skrining status imunisasi tetanus dan berikan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) bila diperlukan.
g)      Pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan.
h)      Tes laboratorium (rutin dan khusus).
i)        Pemeriksaan basil tahan asam (BTA)
j)        Tatalaksana kasus.
k)      Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan
(Astuti,2017 h: 124-126)
d.      Perubahan Anatomi dan Fisiologi Ibu Hamil
1)      Sistem Reproduksi
a)      Uterus
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh estrogen dan progesterone.
Pembesaran disebabkan :
(1)   Peningkatan vaskularisasi dan dilatasi pembuluh darah,
(2)   Hyperplasia dan hipertrofi,
(3)   Perkembangan desidua.

Tabel.  2.1 Ukuran Uterus Normal dan Uterus Hamil
Uterus Normal
Uterus Hamil
Ukuran: 30 gr
Berat : pada 40 minggu menjadi 1000 gr
Ukuran: 7-7,5 cm ×5,2 cm ×2,5 cm
Ukuran: 20 cm × 5,2 cm× 2,5 cm
Bentuk: alfokat
Bentuk: 4 bln = bulat
Akhir hamil = lonjong telur
Besar: telur ayam
Besar: 8 minggu = telur bebek
12 minggu: telur angsa ( TFU teraba diatas simfisis).
tanda hegar: ismus panjang dan lebih lunak.
16 minggu: sebesar kepala bayi atau tinju orang dewasa.

b)      Ovarium
Ovulasi berhenti namun masih terdapat korpus luteum graviditas sampai terbentuknya plasenta yang akan mengambil alih pengeluaran estrogen dan progesterone.
c)      Vagina dan vulva
Oleh karena pengaruh estrogen, terjadi hipervaskularisasi pada vagina dan vulva, sehingga pada bagian tersebut terlihat lebih merah atau kebiruan, kondisi ini disebut dengan tanda Chadwick. (Sulistyawati, 2013, h. 61).
d)     Sistem Payudara
Mamae akan membesar dan tegang akibat hormon somatommatropin, estrogen dan progesteron, akan tetapi belum mengeluarkan ASI. Estrogen menimbulkan hipertrofi sistem saluran, sedangkan progesteron menambah sel-sel asinus pada mammae. Disamping itu dibawah pengaruh progesteron dan somatomammotropin terbentuk lemak disekitar alveola-alveolus, sehingga mammae menjadi lebih besar. (Kuswanti,2014 h:81).
e)      Sistem Endokrin
1)   HCG (Hormone Corionic Gonadotropin)
HCG meningkat 8 hari setelah ovulasi (9 hari setelah puncak LH pertengahan siklus).
Selama 6-8 minggu kehamilan HCG mempertahankan korpus luteum untuk memproduksi estrogen dan progesterone dan selanjutnya akan diambil oleh plasenta.
2)   HPL (Hormone Placenta Lagtogene)
Lactogen plasenta manusia (HPL) dihasilkan oleh plasenta. Pada kehamilan cukup bulan HPL meningkat 10% dari produksi protein plasenta. HPL bersifat diabetogenik, sehingga kebutuhan insulin wanita hamil naik.
3)   Prolaktin
Prolaktin meningkat selama kehamilan sebagai respon terhadap meningkatnya estrogen. Fungsi prolaktin adalah perangsangan produksi susu. Pada trimester II prolaktin yang disekresi oleh hipofisis janin merupakan perangsang pertumbuhan adrenal janin yang penting.
4)   Estrogen
Estrogen merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fetus, pertumbuhan payudara, retensi air dan natrium serta pelepasan hormon hipofise. (Yeyeh,2013 h:43).
 Produksi  estrogen plasenta terus naik selama kehamilan, sehingga pada akhir kehamilan kadarnya kira-kira 100 kali sebelum hamil. (Kuswanti,2014 h:82).
Hormon ini memiliki fungsi proliferasi pada hampir semua organ reproduksi ibu hamil selama kehamilan, kadarnya yang tinggi menyebabkan pembesaran uterus, pembesaran payudara, serta struktur dari duktus payudara dan pembesaran organ genetalia eksterna ibu.
Estrogen juga berperan untuk merelaksasi berbagai ligamen panggul ibu, sehingga sendi sakroiliaka menjadi relatif lentur dan simpisis pubis menjadi elastis. (Sri Astuti,dkk 2017 h:71).
5)   Progesteron
Produksi progesteron lebih banyak jika dibandingkan dengan estrogen. Pada akhir kehamilan produksinya kira-kira 250 mg/hari. Progesterone menyebabkan tonus otot polos menurun dan juga dieresis, progesteron juga menyebabkan lemak disimpan dalam jaringan subkutan di abdomen, punggung dan paha atas. Lemak berfungsi sebagai cadangan energi baik pada wanita hamil maupun menyusui. (Kuswanti,2014 h:82).
6)         Sistem kardiovaskular
Sirkulasi  darah ke plasenta dipengaruhi oleh sirkulasi ke plasenta. Volume plasenta maternal mulai meningkat pada saat kehamilan 10 minggu usia kehamilan dan terus menerus meningkat sampai 30-34 minggu, sampai ia mencapai titik maksimum. Terjadi penurunan hematokrit selama kehamilan normal sehingga disebut anemia fisiologis. Tekanan darah akan turun selama 24 minggu pertama kehamilan akibat terjadi penurunan dalam perifer vaskuler resistence yang disebabkan oleh peregangan otot halus oleh progesterone.
Tekanan sistolik akan turun sekitar 5-10 mmHg dan diastolik 10-15 mmHg. (Kuswanti,2014 h:85).


7)         Sistem Perkemihan
Pada awal-awal kehamilan, kandung kencing tertekan sehingga sering timbul kencing. Keadaan ini akan hilang dengan tuanya kehamilan jika uterus gravidus keluar dari rongga panggul. Ginjal pada saat hamil sedikit lebih besar, lebih panjang dan volume meningkat. (Kuswanti,2014 h:84).
8)   Sistem Gastrointestinal
Rahim yang semakin membesar akan menekan rektum dan usus bagian bawah, sehingga terjadi sembelit atau konstipasi. Sembelit semakin berat karena gerakan otot di dalam usus diperlambat oleh tingginya kadar progesterone (Sulistyawati, 2013, h. 63).
9)   Sistem Metabolisme
Janin membutuhkan 30-40 gram kalsium untuk pembentukan tulangnya dan ini terjadi ketika trimester terakhir.
Oleh karena itu, peningkatan asupan kalsium sangat diperlukan untuk menunjang kebutuhan (Sulistyawati,2013 h.63).
10)  Sistem Muskuloskeletal
Estrogen dan progesteron memberi efek maksimal pada relaksasi otot dan ligament pelvis pada akhir kehamilan. Simfisis pubis melebar sampai 4 mm pada usia kehamilan 32 minggu dan sakrokoksigeus tidak teraba, diikuti terabanya koksigis sebagai pengganti bagian belakang.
Adanya sakit punggung dan ligament pada kehamilan tua disebabkan oleh meningkatnya pergerakan pelvis akibat pembesaran uterus. Bentuk tubuh selalu berubah menyesuaikan dengan pembesaran uterus ke depan karena tidak adanya otot abdomen (Kuswanti,2014 h:85).

11)  Sistem Pernapasan
Sistem respirasi terjadi perubahan guna dapat memenuhi kebutuhan O2. Karena pembesaran uterus terutama pada bulan-bulan terakhir kehamilan dan kebutuhan oksigen yang meningkat ± 20% untuk metaboliseme janin.
Oleh karena diapragmanya tidak dapat bergerak bebas menyababkan bagian thorax juga melebar kesisi luar. Dorongan rahim  yang membesar terjadi desakan diafragma.
Terjadi desakan rahim dan kebutuhan O2 meningkat, bumil akan bernafas lebih cepat 20-25% meningkat, bumil akan bernafas lebih cepat 20-25% dari biasanya (Kuswanti,2014 h:87).
12)    Indeks Masa Tubuh (IMT) dan Berat Badan
Cara yang dipakai untuk menentukan berat badan menurut tinggi badan adalah dengan menggunakan indeks masa tubuh (IMT) dengan rumus berat badan dibagi tinggi badan pangkat 2.
Contoh wanita dengan berat badan sebelum hamil 51 kg dan tinggi badan 1,57 meter. Maka IMT-nya adalah 51/(1,57)2=20,7.
Nilai IMT mempunyai rentang sebagai berikut :
19,8-26,6                     : normal
<19,8                           : underweight
26,6-29,0                      : overweight
>29,0                            : obesitas
Pertambahan berat badan ibu hamil menggambarkan status gizi selama hamil, oleh karena itu perlu dipantau setiap bulan. Jika terdapat kelambatan dalam penambahan berat badan ibu, ini dapat mengidikasikan adanya malnutrisi sehingga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan janin intra-uteri (Intra-Uterin-Growth Retardation-IUGR).
Disarankan pada ibu primigravida untuk tidak menaikan berat badannya lebih dari 1 kg/bulan.
Perkiraan kenaikan berat badan yang dianjurkan:
a)               4 kg pada kehamilan trimester 1
b)               0,5 kg/minggu pada kehamilan trimester II sampai III
c)               Totalnya sekitar 15-16 kg
(Sulistyawati, 2013, h. 68).

e.        Kebutuhan Ibu Hamil
1)      Kebutuhan Fisik
a)      Oksigen
Kebutuhan oksigen berhubungan dengan perubahan sistem pernafasan pada masa kehamilan. Kebutuhan oksigen selama kehamilan meningkat sebagai respon tubuh terhadap akselerasi metabolisme rate perlu untuk menambah masa jaringan pada payudara, hasil konsepsi dan masa uterus dll.
Akibat terjadi perubahan anatomi paru, diameter thorak meningkat kurang lebih 2 cm, lingkar dada akan meningkat 5-7 cm, sudut costa 68◦ sebelum kehamian menjadi 103◦ pada kehamilan trimester 3. (Rukiyah,2017).
b)      Nutrisi
Setiap ibu hamil harus cukup mendapatkan informasi mengenai apa yang boleh dikonsumsi atau tidak boleh dikonsumsi oleh ibu selama masa kehamilan. Ibu hamil harus mendapatkan informasi mengenai manfaat mengonsumsi berbagai makanan selama kehamilan dalam kadar yang cukup. (Sri Astuti, dkk 2017 h:110).
Selain itu, ibu hamil harus diberikan informasi yang adekuat tentang makanan yang dapat menimbulkan resiko bagi janinnya, misalnya makanan mentah atau setengah matang, daging mentah atau daging asap, kerang mentah, ikan yang banyak mengandung atau yang terkontaminasi merkuri, serta keju yang tidak melalui proses pateurisasi. Keju yang tidak baik dikonsumsi oleh ibu hamil yaitu camembert, brie, dan blue veined cheese. Ibu hamil juga harus diberikan informasi tentang bahaya mengonsumsi alkohol bagi janinnya. Selain kafein ibu hamil juga dilarang untuk mengonsumsi kafein karena dapat menimbulkan efek diuretik dan stimulan. (Astuti, dkk 2017 h:110).

Salah satu makanan yang mengandung kafein tinggi adalah kopi, karena hal tersebut dapat menyebabkan peningkatan BAK pada ibu hamil yang akan menyebabkan dehidrasi  serta peningkatan tekanan darah dan denyut jantung.
Pertumbuhan dan perkembangan janin pun akan terganggu karena metabolisme janin belum sempurna. (Sri Astuti, dkk 2017 h:110).
Pada trimester 1 kebutuhan energi meningkat untuk organogenesis atau pembentukan organ-organ penting janin. Kebutuhan nutrisi tersebut diantaranya protein. Sumber pangan yang dijadikan sumber protein adalah daging tak berlemak, ikan, telur, susu, dan hasil olahannya. Zat besi yang diberikan dari usia kehamilan 12 minggu dengan dosis 30-60 gram setiap hari. Asam folat yang berfungsi untuk metabolisme, pematangan sel darah merah, sintesis DNA, pembentukan sel dan heme. Jenis makanan yang mengandung asam folat yaitu ragi, hati, brokoli, bayam, asparagus, dan kacang-kacangan. (Sulistiyawati,2013).
c)      Personal hygiene
Kebersihan  harus dijaga pada masa kehamilan. Mandi anjurkan sedikitnya dua kali sehari karena ibu hamil cenderung untuk mengeluarkan banyak keringat, menjaga kebersihan diri terutama lipatan kulit (ketiak, daerah genetalia) dengan cara dibersihkan dengan air dan dikeringkan. Kebersihan gigi dan mulut perlu mendapat perhatian karena seringkali mudah terjadi gigi berlubang, terutama pda ibu yang kekurangan kalsium.
Rasa mual selama kehamilan dapat mengakibatkan perburukan hygiene mulut dan dapat menimbulkan karies gigi. (Kuswanti,2014 h:119).
Kebersihan ibu hamil perlu diperhatikan karena dengan perubahan sistem metabolisme mengakibatkan peningkatan pengeluaran keringat. Keringat yang menempel di kulit meningkatkan kelembapan kulit dan memungkinkan menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme. Bagian tubuh lain yang sangat membutuhkan perawatan kebersihan adalah daerah vital, karena saat hamil terjadi pengeluaran sekret vagina yang berlebihan. Selain dengan mandi, mengganti celana dalam secara rutin minimal dua kali sehari sangat dianjurkan. (Sulistiyawati,2013).

d)     Eliminasi
Ibu hamil sering buang air kecil terutama pada trimester I dan III kehamilan. Sementara frekuensi buang air besar menurun akibat adanya konstipasi. Kebutuhan ibu hamil karena rasa nyaman terhadap masalah eliminasi juga perlu mendapat perhatian . (Sulistiyawati,2013).
e)      Seksual
Wanita hamil dapat tetap melakukan hubungan seksual dengan suami sepanjang hubungan seksual tersebut tidak mengganggu kehamilan. Ada beberapa tips untuk wanita hamil yang ingin berhubungan seksual dengan suaminya :
(1)   Pilih posisi yang nyaman dan tidak menyebabkan nyeri bagi wanita hamil.
(2)   Sebaiknya gunakan kondom, karena prostaglandin yang terdapat dalam semen bisa menyebabkan kontraksi
(3)   Lakukan dalam frekuensi yang wajar, ± 2-3 kali seminggu
(Sulistiyawati,2013)

f)       Senam Hamil
Senam hamil merupakan suatu program latihan fisik yang sangat penting bagi calon ibu untuk mempersiapkan saat persalinan. Senam hamil adalah terapi latihan gerak untuk mempersiapkan ibu hamil, secara fisik atau mental, pada persalinan cepat, aman dan spontan (Sulistiyawati,2013)
g)      Istirahat/Tidur
Ibu hamil sebaiknya memiliki jam istirahat/tidur yang cukup. Kurang istirahat/ tidur, ibu hamil akan terlihat pucat, lesu dan kurang gairah. Usahakan tidur malam ±8 jam dan tidur siang ±1 jam.
Posisi tidur yang paling dianjurkan adalah tidur miring ke kiri, posisi ini berguna untuk mencegah varises, sesak nafas, bengkak pada kaki, serta dapat memperlancar sirkulasi darah yang penting untuk pertumbuhan janin . (Sulistiyawati,2013).
h)      Perawatan Payudara
Payudara merupakan asset yang sangat penting sebagai persiapan menyambut kelahiran sang bayi dalam proses menyusui. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perawatan payudara adalah sebagai berikut :
(1)   Hindari pemakaian bra dengan ukuran yang terlalu ketat dan yang menggunakan busa, karena akan menganggu penyerapan keringat payudara.
(2)   Gunakan bra dengan bentuk yang menyangga payudara.
(3)   Hindari membersihkan putting susu dengan minyak kelapa lalu bilas dengan air hangat.
(4)   Jika ditemukan pengeluaran cairan yang berwarna kekuningan dari payudara, berarti produksi ASI sudah dimulai. (Sulistyawati, 2013, h.118)

i)        Imunisasi
Imunisasi selama kehamilan sangat penting dilakukan untuk mencegah penyakit yang dapat menyebabkan kematian ibu dan janin. Jenis imunisasi yang diberikan adalah Tetanus Toxoid (TT). Selama kehamilan bila ibu hamil statusnya T0 maka hendaknya mendapatkan minimal 2 dosis (TTI dan TT2 dengan interval 4 minggu dan bila memungkinkan untuk mendapatkan TT3 sesudah 6 bulan berikutnya. Ibu hamil dengan status TT1 duharapkan mendapatkan suntikan TT2 dan bila memungkinkan juga diberikan TT3 dengan interval 6 bulan  (bukan 4 minggu/ 1 bulan).
Walaupun tidak hamil maka bila wanita usia subur belum mencapai status T5 diharapkan mendapatkan dosis TT hingga tercapai status T5 dengan interval yang ditentukan. Hal ini penting untuk mencegah terjadinya tetanus pada bayi yang akan dilahirkan dan keuntungan bagi wanita untuk mencegah mendapatkan kekebalan aktif terhadap tetanus Long Life Card (LLD).



Tabel. 2.4 Pemberian Suntikan TT
Status
Jenis suntikan TT
Interval waktu
Lama Perlindungan
Persentase Perlindungan
T0
Belum pernah mendapat suntikan TT



T1
TT1
80
T2
TT2
4 minggu dari TT1
3 Tahun
95
T3
TT3
6 bulan dari TT2
5 Tahun
99
T4
TT4
Minimal 1 tahun dari TT3
10 Tahun
99
T5
TT5
3 tahun dari TT4
Seumur hidup

                                                                  . (Sulistiyawati,2013).
j)        Ketidaknyamanan dan Cara Mengatasinya
Dalam proses kehamilan terjadi perubahan sistem dalam tubuh ibu yang semuanya membutuhkan suatu adaptasi, baik fisik maupun psikologis.

Dalam proses adaptasi tersebut tidak jarang ibu akan mengalami ketidaknyamanan yang meskipun hal itu adalah hal fisiologis namun tetap perlu diberikan suatu pencegahan dan perawatan.










Beberapa ketidaknyamanan pada trimester III dan cara mengatasinya dapat dilihat Tabel. 2.5

Ketidak Nyamanan
Cara Meringankan atau Mencegah
Sering buang air kecil
1.       Jelaskan pada pasien mengenai penyebab terjadinya keadaan ini.
2.       Kosongkan kandung kemih saat terasa ada dorongan untuk berkemih.
3.       Perbanyak minum pada siang hari
4.       Jangan kurangi minum pada malam hari untuk menghindari buang air kecil pada malam hari kecuali jika hal tersebut sangat menyebabkan keletihan.
5.       Batasi minum minuman dengan bahan diuretic seperti kopi, the, cola, dan kafein.
6.       Jelaskan tentang tanda-tanda bahaya infeksi saluran urine.
Haemoroid
1.       Hindari konstipasi.
2.       Makan makanan yang berserat.
3.       Banyak minum air putih.
4.       Gunakan kompres es, kompres hangat, atau rendah hangat.
5.       Dengan perlahan masukan kembali ke dalam rektum jika perlu.
Sakit punggung atas dan bawah
1.       Gunakan body mechanic yang baik untuk mengangkat benda sambil berdiri.
2.       Gunakan BH yang menopang dan ukuran yang tepat.
3.       Berlatihlah dengan cara mengangkat panggul, hindari ketidaknyamanan karena pekerjaan dengan sepatu hak tinggi, mengangkat beban yang berat, dan keletihan.
4.       Gunakan kasur yang tidak terlalu empuk untuk tidur.
5.       Gunakan bantal saat tidur untuk meluruskan punggung.
Varises pada kaki dan atau vulva waktu terjadinya
1.       Tinggalkan kaki sewaktu berbaring atau duduk.
2.       Berbaring dengan posisi kaki ditinggikan 90O beberapa kali sehari
3.       Jaga agar kaki jangan saling bersilangan
4.       Hindari berdiri atau duduk yang terlalu lama
5.       Istirahat dalam posisi miring ke kiri
6.       Lakukan senam
7.       Hindari pakaian yang ketat, korset yang terlalu ketat
8.       Jaga postur tubuh yang baik.
Edema dependen
1.       Hindari posisi berbaring terlentang.
2.       Hindari posisi berbaring untuk waktu yang lama
3.       Istirahat dengan berbaring miring ke kiri, kaki agak ditinggikan
4.       Tinggikan kaki jika bisa.
5.       Jika perlu, seringlah melatih kaki untuk ditekuk ketika berdiri atau duduk
6.       Angkat kaki ketika duduk atau istirahat
7.       Hindari kaos kaki yang ketat atau tali/pita pada kaki
8.       Lakukan senam hamil secara teratur
                                          . (Sulistiyawati,2013).



f.       Tanda-tanda Bahaya Kehamilan
Selama kehamilan beberapa tanda bahaya yang dialami dapat dijadikan  ssebagai data dalam deteksi dini komplikasi akibat kehamilan. Jika pasien mengalami tanda-tanda bahaya ini maka sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan tidakan antisipasi untuk mencegah terjadinya kematian ibu dan janin.

Beberapa tanda bahaya yang penting untuk disampaikan kepada pasien dan keluarga adalah sebagai berikut :
1)      Perdarahan pervaginam
2)      sakit kepala yang hebat
3)      masalah penglihatan
4)      bengkak pada muka atau tangan
5)      nyeri abdomen yang hebat
6)      bayi kurang bergerak seperti biasa
 (Sulistiyawati,2013)

2.      Persalinan
a.      Pengertian Persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir dengan bantuan atau tanpa bantuan. (Marmi, 2016 h:1)
b.      Tujuan Asuhan Persalinan
Tujuan asuhan persalinan adalah memberikan asuhan yang memadai selama persalinan, dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman dengan memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi. Tujuan asuhan persalinan normal adalah menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui upaya yang terintegrasi dan lengkap tetapi dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang optimal. (Sondakh,2013 h. 10).


c.       Tanda Mulainya Persalinan
Terdapat beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya kekuatan his sehingga menjadi awal mula terjadinya proses persalinan.
1)      Teori Penurunan Progesteron
Menurut Prawirohajo 2007: 181 kadar progesterone akan mulai menurun pada kira-kira 1-2 minggu sebelum persalinan dimulai ( Sondakh,, 2013. h. 2)
2)      Teori Keregangan
Ukuran uterus yang makin membesar dan mengalami penegangan akan mengakibatkan otot-otot uterus mengalami iskemia sehingga mungkin dapat menjadi faktor yang dapat mengganggu sirkulasi uteroplasenta yang pada akhirnya membuat plasenta mengalami degenerasi.ketika uterus berkontraksi dan menimbulkan tekanan pada selaput ketuban, tekanan hidrostatikkantong amnion akan melebarkan saluran serviks.(Sondakh,2013.h.3).
3)      Teori oksitosin interna
Hipofisis posterior menghasilkan hormone oksitosin. Adanya perubahan keseimabangan antara estrogen dan progesterone dapat mengubah tingkat sensitivitas otot rahim dan akan mengakibatkan terjadinya kontraksi uterus uang disebut Braxton Hicks. Penurunan kadar progesterone karena usia kehamilan yang sudah tua akan mengakibatkan aktivitas oksitosin meningkat (Sondakh,2013.h.3).
4)      Teori Plasenta Menjadi Tua
Sering matangnya kehamilan vili chorialis dalam plasenta mengalami beberapa perubahan, hal ini menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesterone yang mengakibatkan tegangnya pembuluh darah sehingga akan menimbulkan kontraksi (Sulistyawati, 2013, h. 5).


Beberapa tanda-tanda dimulainya persalinan adalah sebagai berikut.
a)      Terjadinya His Persalinan
Sifat his persalinan adalah:
(1)   Pinggang terasa sakit dan menjalar kedepan.
(2)   Sifatnya teratur, anterval makin pendek, dan kekuatan makin besar.
(3)   Makin beraktivitas (jalan), kekuatan akan makin bertambah (Sondakh,2013.h.3).

b)      Pengeluaran Lendir dengan Darah
Terjadinya his persalinan mengakibatkan terjadinya perubahan pada srviks yang akan menimbulkan:
(1)   Pendataran dan pembukaan.
(2)   Pembukaan menyebabkan lendir yang terdapat pada kanalis servikalis lepas.
(3)   Terjadi pendarahan karena kapiler pembuluh darah pecah (Sondakh,2013.h.3)

c)      Pengeluaran Cairan
Pada beberapa kasus persalinan akan terjadi pecah ketuban. Sebagian besar, keadaan ini terjadi menjelang pembukaan lengkap. Setelah adanya pecah ketuban, diharapkan proses persalinan akan berlangsung kurang dari 24 jam (Sondakh,2013.h.3).


d)     Hasil-Hasil yang Didapatkan pada Pemeriksaan Dalam
1)      Perlunakan serviks.
2)      Pendataran serviks.
3)      Pembukaan serviks
 (Sondakh,2013.h.3).

d.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persalinan
Persalinan dapat berjalan normal (Eutocia) apabila ketiga faktor fisik 3 P yaitu power, passage, passanger dapat bekerja sama dengan baik. Selain itu terdapat 2 P tang merupakan faktor lain yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi jalannya persalinan, terdiri atas psikologi dan penolong.
1)      Power (Tenaga/Kekuatan)
Kekuatan yang mendorong janin dalam persalinan adalah his, kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma, dan aksi dari ligament.
Kekuatan primer yang diperlukan dalam persalinan adalah his, sedangkan sebagai kekuatan sekundernya adalah tenaga meneran ibu (Rohani dkk,2013, h.16)
2)      Passage(Jalan Lahir)
Jalan lahir terbagi atas dua, yaitu jalan lahir keras dan jalan lahir lunak. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam jalan lahir keras adalah ukuran dan bentuk tulang panggul, sedangkan yang perlu diperhatikan dalam jalan lahir lunak adalah segmen bawah uterus yang dapat meregang, serviks, otot dasar panggul, vagina, dan introitus vagina.
3)      Passenger (Penumpang)
Penumpang dalam jalan lahir adalah janin dan plasenta. Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai janin adalah ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin, sedangkan yang perlu diperhatikan pada plasenta adalah letak, besar, dan luasnya (Sondakh,,2013, h. 4).

4)      Respons Psikologi (Psikology Respons)
Respon psikologi ibu dapat dipengaruhi oleh:
a)      Dukungan ayah bayi/pasangan selama proses persalinan
b)      Dukungan kakek-nenek (saudara dekat) selama persalinan
c)      Saudara kandung bayi selama persalinan
(Sondakh,,2013, h. 4).
5)      Penolong
Peran dari penolong persalinan adalah mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin, dalam hal ini tergantung dari kemampuan dan kesiapan penolong dalam menghadapi proses persalinan (Rohani dkk, h. 36).

e.       Tahapan Persalinan
Tahapan dari persalinan terdiri atas kala I (kala pembukaan), kala II (kala pengeluaran janin), kala III (pelepasan plasenta), dan kala IV (kala pengawasan/observasi/pemulihan) (Sondakh,, 2013, h. 5).

1)      Kala I (Kala Pembukaan)
Kala I dimulai dari saat persalinan mulai (pembukaan nol) sampai pembukaan lengkap (10 cm). proses ini terbagi dalam 2 fase, yaitu:
a)      Fase laten: berlangsung selama 8 jam. Serviks membuka sampai 3 cm.
b)      Fase aktif: berlangsung selama 7 jam, serviks membuka dari 4 cm sampai 10 cm, kontraksi lebih kuat dan sering, dibagi dalam 3 fase:
(1)   Fase akselerasi: dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.
(2)   Fase dilatasi maksimal: dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm.
(3)   Fase deselerasi: pembukaan menjadi lambat sekali, dalam waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi lengap.
Proses diatas terjadi pada primigravida ataupun multigravida, tetapi pada multigravida memiliki jangka waktu yang lebih pendek. Pada primigravida, kala I berlangsung ±12 jam, sedangkan pada multigravida ±8 jam (Sondakh,2013.h.5).


2)      Kala II ( kala pengeluaran janin)
Kala II adalah kala pengeluaran bayi, dimulai dari pembukaan lengkap sampai bayi lahir. Uterus dengan kekuatan his nya ditambah kekuatan menereran akan mendorong bayi hingga lahir (Sulistyawati,2013, h. 7).
Gejala utama kala II adalah sebagai berikut:
a)      His semakin kuat, dengan interval 2 sampai 3 menit, dengan durasi 50 sampai 100 detik.
b)      Menjelang akhir kala I, ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran cairan secara mendadak.
c)      Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan mengejan akibat tertekannya pleksus Frankenhauser.
d)     Kedua kekuatan his dan mendorong  kepala bayi sehingga terjadi:
(1)   Kepala membuka pintu
(2)   Suboociput bertindak sebagai hipomoglion, kemudian secara berturut-turut lahir ubun-ubun bersar, dahi, hidung dan muka, serta kepala seluruhnya.
e)      Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putar paksi luar, yaitu penyesuaian kepala pada punggung.
f)       Setelah putar paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi ditolong dengan cara :
(1)   Kepala dipegang pada os occiput dan di bawah dagu, kemudian ditarik dengan menggunakan cunam kebawah untuk melahirkan bahu depan dan ke belakang untuk melahirkan bahu belakang.
(2)   Setelah kedua bahu lahir, ketiak dikait untuk melahirkan sisa badan bayi.
(3)   Bayi lahir diikuti oleh sisa air ketuban.
(4)   Lamanya kala II untuk primigravida 1,5-2 jam dan multigravida 1,5-1 jam (Sondakh,2013.h.5-6).

3)      Kala III (Pelepasan Plasenta)
Kala III dimulai setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Proses lepasnya plasenta dapat diperkirakan dengan mempertahankan tanda-tanda dibawah ini.
a)      Uterus globuler.
b)      Uterus terdorong keatas karena plasenta dilepas ke segmen bawah rahim.
c)      Tali pusat bertambah panjang.
d)     Terjadi semburan darah tiba-tiba
(Sondakh,2013.h-6).

4)      Kala IV (Kala Pengawsan/Observasi)
Kala IV dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam postpartum. Kala ini terutama bertujuan untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum paling sering terjadi pada 2 jam pertama. Darah yang keluar selama perdarahan harus ditakar sebaik-baiknya. Kehilangan darah pada persalinan biasanya disebabkan oleh luka pada saat pelepasan plasenta dan robekan pada serviks dan perineum. Rata-rata jumlah perdarahan yang dikatakan normal adalah 250 cc, biasanya 100-300 cc.
 Jika perdarahan lebih dari 500 cc, maka sudah dianggap abnormal, dengan demikian harus dicari penyebabnya. Hal yang harus diingat adalah jangan meninggalkan wanita bersalin 1 jam sesudah bayi dan plasenta lahir.

Sebelum pergi meninggalkan ibu yang baru melahirkan, periksa ulang terlebih dulu dan perhatikanlah 7 pokok penting berikut:

a)      Kontraksi rahim : baik atau tidaknya diketahui dengan pemeriksaan palpasi. Jika perlu lakukan masase dan berikan uteronika, seperti methergin, atau ermetrin dan oksitosin.
b)      Perdarahan: ada atau tidak, banyak atau biasa.
c)      Kandung kemih: harus kosong, jika penuh ibu dianjurkan berkemih dan kalau tidak bisa, lakukan kateter.
d)     Luka-luka: jahitannya baik ata tidak, ada perdarahan atau tidak.
e)      Plasenta dan selaput ketuban harus lengkap.
f)       Keadaan umum ibu, tekanan darah, nadi, pernapasan, dan masalah lain.
g)      Bayi dalam keadaan baik
(Sondakh,2013.h.7-8).

f.       Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin
Asuhan yang sifatnya memberikan dukungan selama persalinan merupakan suatu standar pelayanan kebidanan. Asuhan yang mendukung berarti bersifat aktif dan ikut serta dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Dukungan fisik dan emosional yang diberikan oleh bidan harus memperhatikan prinsip-prinsip Asuhan Sayang Ibu.
Tindakan pendukung dan penenang selama persalinan sangatlah penting dalam kebidanan karena akan memberikan efek yang positif baik secara emosional ataupun fisiologi terhadap ibu dan janin.
Lima kebutuhaan wanita bersalin adalah sebagai berikut :
1)      Asuhan tubuh dan fisik.
2)      Kehadiran seorang pendamping.
3)      Pengurangan rasa nyeri.
4)      Penerimaan terhadap sikap perilakunya.
5)      Informasi dan kepastian tentang hasil persalinan yang aman (Rohani dkk, 2013, h. 40).

g.      Asuhan Persalinan
1)      Asuhan Persalinan Kala I
a)      Memantau perubahan tubuh pasien  untuk menentukan apakah persalinan dalam proses normal.
b)      Memeriksa respons psikologis dan respons fisik pasien terhadap persalinan.
c)      Memeriksa bagaimana respons bayi terhadap persalinan dan kelahiran.
d)     Membantu pasien untuk memahami apa yang sedang terjadi sehingga ia dapat berperan serta dalam menentukan asuhan.
e)      Membantu keluarga dalam merawat  pasien selama persalinan, kelahiran, dan asuhan persalinan dini.
f)       Menggali masalah secepatnya dan mengambil tindakan yang sepatutntya dengan tepat waktu.
 (Rohani dkk, 2013, h. 7

2)      Asuhan Persalinan Kala II
a)      Pemantauan Ibu
Tanda-tanda dan gejala kala II adalah sebagai berikut:
(1)   Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
(2)   Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rektum atau vagina.
(3)   Perineum terlihat menonjol.
(4)   Vulva-vagina dan spingter ani terlihat membuka.
(5)   Peningkatan pengeluaran lendir dan darah.

Tindakan yang dilakukan untuk mengevaluasi kesejahteraan ibu adalah sebagai berikut :
(1)   Tanda-tanda vital: tekanan darah (setiap 30 menit), suhu, nadi (setiap 30 menit), pernapasan.
(2)   Kandung kemih
(a)    Urin: protein dan keton.
(b)   Hidrasi: cairan, mual, muntah.
(c)    Kondisi umum: kelemahan dan keletihan fisik, tingkah laku, dan respons terhadap persalinan, serta nyeri.
(d)   Upaya ibu meneran.
(e)    Kontraksi setiap 30 menit
(Sondakh, 2013, h. 133).

(3)   Kontraksi
His atau kontraksi harus selalu dipantau selama kala II persalinan karena selain dorongan meneran pasien, kontraksi uterus merupakan kunci dari proses persalinan.
Beberapa kriteria dalam pemantauan kontraksi uterus pada kala II :
(a)    Frekuensi lebih dari 3 kali dalam 10 menit.
(b)   Intensitas kontraksi kuat.
(c)    Durasi lebih dari 40 detik (Sulistyawati, 2013, h. 115).

(4)   Kemajuan Persalinan
Jika terjadi penurunan janin selama kala I fase aktif dan memasuki fase pengeluaran, maka dapat dikatakan kemajuan persalinan cukup baik. Menurut Friedmann, durasi waktu untuk kala II rata-rata adalah 1 jam untuk primigravida dan 15 menit untuk multipara. Pada kala II yang berlangsung lebih dari 2 jam bagi primigravida atau 1 jam bagi multipara, dianggap sudah abnormal (Sondakh,2013.h.133).
b)      Pemantauan Janin
Beberapa hal dari janin yang harus selalu diperhatikan adalah:
1)      Denyut jantung janin
(a)     Denyut normal 120-16- kali/menit.
(b)   Perubahan DJJ, pantau setiap 15 menit.
(c)    Variasi DJJ dari DJJ dasar.
(d)   Pemerikasaan auskultasi DJJ Setiap 30 menit.
(e)    Adanya air ketuban dan karakteristiknya (jernih, keruh, kehijauan/tercampur mekonium).
(f)    Penyusupan kepala janin. (Sondakh,2013 h.134).

c)      Asuhan Dukungan.
Beberapa asuhan dan dukungan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1)      Pemberian rasa aman, dukungan, dan keyakinan kepada ibu bahwa ibu mampu bersalin.
2)      Membantu pernapasan.
3)      Membantu teknik meneran.
4)      Ikut srtakan dan hormati leuarga yang menemani.
5)      Berikan tindakan yang menyenangkan.
6)      Penuhi kebutuhan hidrasi.
7)      Penerapan pencegahan infeksi (PI).
8)      Pastikan kandung kemih kosong. (Sondak,2013.h.134).

3)      Asuhan Persalinan Kala III
a)      Manajemen Aktif Kala III
Manajemen aktif kala III selesai secepat mungkin dengan melakukan langkah-langkah yang memungkinkan plasenta lepas dan lahir lebih cepat (Sulistyawati, 2013, h. 159).

Tujuan manajemen aktif kala III yaitu mengurangi kejadian perdarahan pascamelahirkan, mengurangi lamanya kal III, mengurangi penggunaan tranfusi darah, mengurangi penggunaan terapi oksitosin. (Sondak,2013 h : 160).

b)     Komponen Manajemen Aktif Kala III
(1)   Pemberian oksitosin IM 10 IU segera stelah bayi lahir (maksimal 2 menit).
(2)   Tali pusat diklem.
(3)   Plasenta dilahirkan melalui peregangan tali pusat terkendali dengan menahan fundus uterus secara dorsokranial (arah ke atas dan  ke belakang).
(4)   Begitu plasenta dilahirkan, lakukan masase pada fundus uterus secara sirkular agar uterus tetap berkontraksi dengan baik serta untuk mendorong ke luar setiap gumpalan darah yang ada dalam uterus. (Sulistyawati, 2013)

c)      Kebutuhan Ibu Kala III
Kala III merupakan kala setelah keluarnya bayi sampai plasenta lahir. Asuhan yang dapat dilakuakan pada ibu antara lain:
(1)   Memberikan kesempatan kepada ibu untuk segera memeluk bayinya dan menyusuinya.
(2)   Memberitahu setiap tindakan yang akan dilakukan.
(3)   Pencegahan infeksi pada kala III.
(4)   Memantau keadaan ibu (tanda vital, kontraksi, perdarahan).
(5)   Melakukan kolaborasi/rujukan bila terjadi kegawatdaruratan.
(6)   Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi.
(7)   Memberikan motivasi dan pendampingan selama kala III (Sondakh,, 2013, h. 141).

4)      Asuhan Persalinan Kala IV
a)      Asuhan dan Pemantauan Kala IV
(1)   Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua. Jika kontraksi uterus tidak kuat, masase uterus sampai menjadi keras. Apabila uterus berkontraksi, otot uterus akan menjepit pembuluh darah untuk menghentikan perdarahan pascapersalinan.
(2)   Periksa tekanan darah, nadi, kandung kemih, dan perdarahan tiap 15 menit pada jam pertama dan tiap 30 menit pada jam kedua.
(3)   Anjurkan ibu minum untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Tawarkan ibu untuk makan atau minum yang disukainya.
(4)   Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian yang bersih dan kering.
(5)   Biarkan ibu beristirahat karena telah bekerja keras melahirkan bayinya, bantu ibu pada posisi yang nyaman.
(6)   Biarkan bayi berada di dekat ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dan bayi. Menyusui juga dapat dipakai sebagai permulaan dalam meningkatkan hubuungan ibu dan bayi.
(7)   Bayi sangat bersiap segera setelah melahirkan. Hal ini sangat tepat untuk memulai memberikan ASI. Menyusui juga dapat membantu proses kontraksi uterus.
(8)   Jika perlu ke kamar mandi, saat ibu dapat bangun, pastikan ibu dibantu karena masih dalam keadaan lemah atau pusing setelah persalinan. Pastikan ibu sudah buang air krcil tiga jam pascapersalinan.
(9)   Ajarkan ibu dan keluarga mengenai hal-hal berikut :
(a)      Bagaimana memeriksa fundus dan menimbulkan kontraksi.
(b)     Tanda-tanda bahaya pada ibu dan bayi. (Rohani, dkk, 2013, h.232).

h.       60 Langkah Asuhan Persainan Normal
1)      Melihat Tanda Gejala Kala II
(a)     Melihat Tanda dan Gejala Persalinan Kala II
Ibu mempunyai keinginan untuk meneran
Ibu mersasa tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan/atau vaginanya.
(b)    Perineum menonjol.
Menyiapkan Pertolongan Persalinan
2)      Memastikan perlengkapan, bahan, dan obat-obatan esensial siap digunakan. Mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan menempatkan tabung suntik steril sekali pakai di dalam partus set.
3)      Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih.
4)      Melepaskan semua perhiasan yang di pakai di bawah siku, mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk satu kali pakai/pribadi yang bersih.
5)      Memakai satu sarung dengan DTT atau steril untuk semua pemeriksaan dalam.
6)      Mengisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik ( dengan memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakkan kembali ke partus set/ wadah disinfeksi tingkat atau steril tanpa mengontaminasi tabung suntik).
Memastikan Pembukaan Lengkap dan Janin Baik
7)      Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah dibasahi air disinfeksi tingkat tinggi. Jika mulut vagina, perineum, atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu, membersihkannya dengan seksama dengan cara menyeka dari depan ke belakang. Membuang kapas atau kasa yang terkontaminasi dalam wadah yang benar.
Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi (meletakkan kedua sarung tangan tersebut dengan benar didalam larutan dekontaminasi, lengkap ).

8)      Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah lengkap. Bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan pembukaan sudah lengkap, lakukan amniotomi.

9)      Mendekontaminasi sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam keadaan terbalik serta merendamnya di dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Mencuci tangan (seperti di atas).

10)  Memeriksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi berakhir untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (100-180 kali/menit) :
(a)    Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.
(b)   Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ, dan semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf.


Menyiapkan Ibu dan Keluarga untuk Membantu Proses Pimpinan Meneran
11)  Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik. Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai dengan keinginannya.
(a)    Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk meneran. Melanjutkan pemantauan kesehatan dan kenyamanan ibu serta janin sesuai dengan pedoman persalinan aktif dan mendokumentasikan temuan-temuan.
(b)   Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka dapat mendukung dan member semangat kepada ibu saat ibu mulai meneran.
12)  Meminta bantuan keluarga untuk mennyiapkan posisi ibu untuk meneran. (pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman).
13)  Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran :
(a)    Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinginan untuk meneran.
(b)   Mendukung dan member semangat atas usaha ibu untuk meneran.
(c)    Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai dengan pilihannya (tidak meminta ibu berbaring terlentang).
(d)   Menganjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi.
(e)    Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan member semangat pada ibu.
(f)    Menganjurkan asupan cairan per oral.
(g)   Menilai DJJ setiap lima menit.
(h)   Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera dalam waktu 120 menit (2 jam) meneran untuk ibu primipara atau 60 enit (1 jam) untuk ibu multipara, merujuk segera. Jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk meneran.
(i)     Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok, atau mengambil posisi yang nyaman. Jika ibu belum ingin meneran dalam 60 menit, anjurkan ibu untuk mulai meneran pada puncak kontraksi-kontraksi tersebut dan beristirahat di antara kontraksi.
(j)     Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera setelah 60 menit meneran, merujuk ibu dengan segera.

Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi
14)  Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, letakkan handuk bersih di atas perut ibu untuk mengeringkan bayi.
15)  Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, di bawah bokong ibu.
16)  Membuka partus set.
17)  Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.

Menolong Kelahiran Bayi
Lahirnya kepala bayi
18)  Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi, letakkan tangan yang lain dikepala bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi, membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan-lahan. Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan-lahan atau bernapas cepat saat kepala lahir.
19)  Dengan lembut menyeka muka, mulut, dan hidung bayi dengan kain atau kasa yang berseih. (Langkah ini tidak harus dilakukan).


20)  Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika hal itu terjadi, dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi:
(a)    Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala bayi.
(b)   Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya di dua tempat dan memotongnya.
21)  Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan.

Lahir Bahu
22)  Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua tangan di masing-masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya. Dengan lembut menariknya ke arah luar hingga bahu anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian dengan lembut menarik kea rah atas dank e arah luar untuk melahirkan bahu posterior.
23)  Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada di bagian bawah kea rah perineum, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke tangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati perineum, gunakan lengan bagian bawah untuk menyangga tubuh bayi saat dilahirkan. Menggunakan tangan anterior (bagian atas) untuk mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat keduanya lahir.
24)  Setelah tubuh dari lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas (anterior) dari punggung ke arah kaki bayi untuk menyangga saat punggung kaki lahir. Memeggang kedua mata kaki bayi dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.

Penanganan Bayi Baru Lahir
25)  Menilai bayi dengan cepat (dalam 30 detik), kemudian meletakkan bayi di atas perut ibu dengan posisi kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek, meletakkan bayidi tempat yang memungkinkan). Bila bayi mengalami asfiksia, lakukan resusitasi.
26)  Segera membungkus kepala dan badan bayi dengan handuk dan biarkan kontak kulit ibu-bayi. Lakukan penyuntikan oksitosin/i.m. (lihat keterangan dibawah).
27)  Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem kea rah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem pertama (kea rah ibu).
28)  Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari gunting dan memotong tali pusat di anatara dua klem tersebut.
29)  Mengeringkan bayi, mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau selimut yang bersih dan kering, menutupi bagian kepala, membiarkan tali pusat terbuka. Jika bayi mengalami kesulitan bernapas, ambil tindakan yang sesuai.
30)  Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya.

Oksitosin
31)  Meletakkan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi abdomen untuk menghilangkan kemungkinan adanya bayi kedua.
32)  Memberitahu kepada ibu bahwa ia akan disuntik.
33)  Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, berikan suntikan oksitosin 10 unit I.M. di gluteus atau 1/3 atas paha kanan ibu bagian luar, setelah mengaspirasinya terlebih dahulu.

Penegangan Tali Pusat Terkendali
34)  Memindahkan klem pada tali pusat.
35)  Meletakkan satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat di atas tulang pubis, dan menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan uterus. Memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain.
36)  Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan penegangan kea rah bawah pada tali pusat dengan lembut. Lakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah uterus dengan cara menekan uterus kea rah atas dan belakang (dorso kranial) dengan hati-hati untuk membantu mencegah terjadinya iversio uteri.
Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga kontraksi berikut mulai.
(a)    Jika uterus tidak berkontraksi, meminta ibu atau seorang anggota keluarga untuk melakukan rangsangan putting susu.

Mengeluarkan Plasenta
37)  Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali pusat kea rah bawah dan kemudian kea rah atas, mengikuti kurva jalan lahir sambil meneruskan tekanan berlawanan arah pada uterus.
(a)    Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva.
(b)   Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan penegangan tali pusat selama 15 menit:
(1)   Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit I.M.
(2)   Menilai kandung kemih dan dilakukan kateterisasi kandung kemih dengan menggunakan teknik aseptik jika perlu.
(3)   Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan.
(4)   Mengurangi penegangan tali pusat selama 15 menit berikutnya.
(5)   Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir dalam waktu 30 menit sejak kelahiran bayi.

38)  Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta dengan menggunakan ke dua tangan. Memegang plasenta dengan dua tangan dan dengan hati-hati memutar plasenta hingga selaput ketuban terpilin.
Dengan lembut perlahan melahirkan melahirkan selaput ketuban tersebut :
(a)    Jika selaput ketuban robek, memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril dan memeriksa vagina dan serviks ibu dengan seksama. Menggunakan jari-jari tangan atau klem atau forceps disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk melepaskan bsgian selaput yang tertinggal.
Pemijatan Uterus
39)  Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase uterus, meletakkan telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus menjadi keras).

Menilai Perdarahan
40)  Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun janin dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa plasenta dan selaput ketuban lengkap dan utuh. Meletakkan plasenta di dalam kantung plastic atau tempat khusus.
(a)    Jika uterus berkontraksi setelah meakukan masase selama 15 detik mengambil tindakan yang sesuai.
41)  Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan segera menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif.
Melakukan Prosedur Pascapersalinan
42)  Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan baik.
43)  Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%; membilas kedua tangan yang masih bersarung tangan tersebut dengan air disinfeksi tingkat tinggi dengan simpul mati sekeliling tali pusat sekitar 1 cm dari tali pusat.
44)  Menempatkan klem tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau mengikatkan tali disinfeksi tingkat tinggi dengan simpul mati sekeliling tali pusat sekitar 1 cm dari pusat.
45)  Mengikat satu lagi simpul mati di bagian pusat yang berseberangan dengan simpul mati yang pertama.
46)  Melepaskan klem bedah dan meletakkannya ke dalam larutan klorin 0,5%.
47)  Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya. Memastikan handuk atau kainnya bersih atau kering.
48)  Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI.
49)  Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam:
(a)    2-3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan.
(b)   Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan.
(c)    Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascapersalinan.
(d)   Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, laksanakan perawatan yang sesuai untuk menatalaksana atonia uteri.
(e)    Jika ditemukan laserasi yang memerlukan penjahitan, lakukan penjahitan dengan anastesi lokal dan menggunakan teknik yang sesuai.
50)  Mengajarkan pada ibu/keluarga bagaimana melakukan masase uterus dan memeriksa kontraksi uterus.
51)  Mengevaluasi kehilangan darah.
52)  Memeriksa tekanan darah, nadi, dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama satu jam pertama pascapersalinan.
(a)    Memeriksa temperature tubuh ibu sekali setiap jam selama dua jam pertama pascapersalinan.
(b)   Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.

Kebersihan dan Keamanan
53)  Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Mencuci dan membilas peralatan setelah dekontaminasi.
54)  Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah yang sesuai.
55)  Membershkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat tinggi. Membersihkan cairan ketuban, lendir, dan darah. membantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering.
56)  Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI. Menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minuman dan makanan yang diinginkan.
57)  Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan larutan klorin 0,5% dan membilas dengan air bersih.
58)  Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%, membalikkan bagian dalam ke luar dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5% delama 10 menit.
59)  Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.

Dokumentasi
60)  Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang) (Prawirohardjo, 2016).

3.      Ruptur perineum
a.      Pengertian perineum
Perineum merupakan bagian dari pintu bawah panggul yang berada di antara vulva dan anus. Perineum terdiri dari otot dan fascia urogenitalis, serta diafragma pelvis. (Fatimah, 2019)
b.      Pengertian ruptur perineum[
Rupture perineum atau luka perineum adalah perlukaan pada diafragma urogenitalis dan muskulus levator ani yang terjadi pada persalinan normal atau dengan alat. (Rukiyah, 2017)
c.       Klasifikasi ruptur perineum
Klasifikasi robekan perineum berdasarkan luasnya adalah sebagai berikut :
1)      Derajat satu
Robekan derajat satu terjadi pada jaringan mukosa vagina, vulva bagian depan dan kulit perineum
2)      Derajat derajat dua terjadi pada jaringan mukosa vagina, vulva bagian depan, kulit perineum dan otot-otot perineum.
3)      Derajat tiga
Robekan derajat tiga terjadi pada jaringan mukosa vagina, vulva bagian depan, kulit perineum, otot-otot perineum dan sfingter ani eksternal.
4)      Derajat empat
Robekan derajat empat dapat terjadi pada jaringan keseluruhan perineum dan sfingter ani sampai dinding depan rektum.
(Fatimah, 2019)

d.      Etiologi
Etiologi dari rupture perineum adalah sebagai berikut
1)      Secara umum
a)      Kepala janin terlalu cepat lahir
b)      Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya
c)      Sebelumnya pada perineum terdapat banyak jaringan parut
d)     Distosia bahu
2)      Faktor maternal
a)      Partus presipitatus yang tidak dikendalikan dan tidak ditolong
b)      Pasien tidak mampu berhenti mengejan
c)      Partus diselesaikan secara tergesa-gesa dengan dorongan fundus yang berlebihan
d)     Perluasan perineum
3)      Faktor janin
a)      Bayi besar
b)      Posisi kepala abnormal
c)      Kelahiran bokong
d)     Ekstraksi forcep
Distosia bahu
(Maternity,2014 h:131)
e.       Patofisiologi
Patofisiologi dari rupture perineum adalah sebagai berikut :
1)      Perineum kaku, kepala janin terlalu cepat lahir
2)      Kesalahan memimpin persalinan
3)      Regangan perineum
(Maternity,2014 h:132)
f.       Waktu perawatan
Perawatan rupture perineum dapat dilakukan pada :
1)      Saat mandi : pada saat mandi, ibu postpartum pasti melepas pembalut, setelah terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada pembalut, demikian pula pada perineum ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
2)      Setelah buang air kecil : pada saat buang air kecil, kemungkinan besar terjadi kontaminasi air seni pada rectum akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri pada perineum untuk itu diperlukan pembersiahna perineum.
3)      Setelah buang air besar : diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus dan perineum yang letaknya bersebelahan maka diperlukan proses pembersihan anus dan perineum secara keseluuhan. (Elisabeth, 2015)
g.      Faktor - faktor yang mempengaruhi penyembuhan ruptur  perineum
Factor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan ruptur perineum adalah :
1)      Gizi
Factor gizi terutama factor protein akan sangat mempengaruhi terhadap proses penyembuhan luka pada perineum karena penggantian jaringan yang membutuhkan protein.
2)      Obat-obatan
Steroid dapat menyamarkan adanya infeksi dengan mengganggu respon inflamasi normal, antikoagulan dapat menyebabkan hemoragik, antibiotic sepektrum luas/spesifik : efektif bila diberikan segera sebelum pembedahanuntuk patologis spesifik atau kontaminasi bakteri. Jika diberikan setelah luka tertutup, tidak efektif karena koagulasi intravaskuler.
3)      Sarana dan prasarana
Kemampuan ibu dalam menyediakan sarana dan prasarana dalam perawatan perineum akan sangat mempengaruhi penyembuhan perineum misalnya kemampuan ibu dalam menyediakan antiseptic.
4)      Budaya dan keyakinan
Budaya dan keyakinan akan mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya kebiasaan tarak telur, ikan dan daging ayam, akan mempengaruhi asupan gizi ibu yang akan sangat mempengaruhi penyembuhan luka.
(Elisabeth,2015 h: 115)


h.      Dampak perawatan luka perineum yang tidak benar
Perawatan luka perineum dilakukan dengan baik dapat menghindarkan hal berikut ini:
1)      Infeksi
Kondisi perineum yang terkena lokia dan lembab akan sangat menunjang perkembangbiakan bakteri yang akan mnyebabkan timbulnya infeksi pada perineum
2)      Komplikasi
Munculnya infeksi pada perineum dapat merambat pada saluran kandung kemih ataupun pada jalan lahir yang dapat berakibat pada munculnya komplikasi infeksi kandung kemih maupun infeksi pada jalan lahir.
3)      Kematian ibu postpartum
Penanganan komplikasi yang lambat dapat menyebabkan terjadinya kematian pada ibu postpartum mengingat kondisi fisik ibu postpartum masih lemah.
(Elisabeth,2015 h:112)




i.        Fase-fase penyembuhan luka
Fase-fase penyembuhan luka adalah sebagai berikut :
1)      Fase inflamasi
Fase inflamasi disebut juga fase peradangan yang dimulai setelah pembedahan dan berakhir pada hari ke 3-4 hari pascaoperasi. Dalam fase ini terdapat dua tahap yaitu hemostasis dan pagositosis. Hemostasis adalah proses untuk menghentikan perdarahan, yakni kontraksi terjadi pada pembuluh darah dan akan membentuk fibrin untuk mencegah masuknya organisme infeksius. Sedangkan pagositosis yaitu hasil dari konstruksi pembuluh darah yang berakibat terjadinya pembekuan darah.
2)      Fase proliferative (berlangsung 5 sampai 20 hari)
Fase proliferative disebut juga fase fibroplasia dimulai pada hari ke 4 dan berakhir pada hari ke 21. Pada fase ini terjadi proses yang menghasilkan zat-zat penutup tepi luka bersamaan dengan terbentuknya jaringan granulasi yang akan membuat seluruh permukaan tertutup oleh epitel.
3)      Fase maturasi
Fase maturasi disebut juga fase remodeling yang dimulai pada hari ke 21 dan berkanjut hingga 1-2 tahunpasca terjadinya luka. Pada fase ini, terjadi proses pematangan, yaitu jaringan yang berlebih akan kembali diserap dan membentuk kembali jaringan yang baru.
(Fatimah, 2019)
j.        Penatalaksanaan
1)      Persiapan pada ibu postpartum : perawatan perineum sebaiknya dilakukan di kamar mandi dengan posisi ibu jongkok jika ibu telah mampu atau berdiri dengan posisi kaki terbuka.
Alat dan bahan : alat yang digunakan adalah botol, baskom dan gayung atau shower air hangat dan handuk bersih.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah air hangat, pembalut nifas baru dan antiseptic.
2)      Penatalaksanan yang diberiakn pada ibu adalah :
a.       Mencuci tangannya
b.      Mengisi botol plastik yang dimiliki dengan air hangat
c.       Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan ke bawah mengarah ke rectum dan diletakkan pembalut tersebut ke dalam kantung plastic
d.      Berkemih dan BAB ke toilet
e.       Semprotkan ke seluruh perineum dengan menggunakan air
f.       Keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke belakang
g.      Pasang pembalut dari depan ke belakang
h.      Cuci tangan kembali
3)      Lakukan evaluasi
Parameter yang digunakan dalam evaluasi hasil perawatan adalah : perineum tidak lembab, posisi pembalut tepat, ibu merasa nyaman.
( Elisabeth,2015 h:111-112)
Menurut jurnal lestari prasetya, 2016 penyembuhan luka perineum dengan menggunakan air rebusan daun sirih merah dan mengkonsumsi telur rebus didapatkan hasil penyembuhan luka pada Ny. N memerlukan waktu 6 hari. Ditunjukan bahwa luka sudah kering dan jaringan-jaringan pada luka perineum sudah menyatu sempurna. Hasil penelitian telah membuktikan manfaat telur rebus dibutuhkan untuk kesembuhan luka jahitan perineum pada ibu nifas, mayoritas responden sembuh normal dengan waktu yang butuhkan antara 5 hari. Waktu kesembuhan yang dibutuhkan ibu nifas yang tidak mengkonsumsi telur rebus rata-rata 7 hari. Kandungan nutrisi telur utuh mengandung lebih dari 90% kalisum dan zat besi, satu telur mengandung 6 gram protein berkualitas dan 9 asam amino esensial.

4.      BAYI BARU LAHIR
a.      Pengertian Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37-42 minggu dengan berat lahir antara 2500-4000 gram.
Bayi baru lahir dikatakan normal jika termasuk dalam criteria sebagai berikut :
1)      Berat badan lahir bayi antara 2500-4000 gram.
2)      Panjang bandan bayi 48-50 cm
3)      Lingkar dada bayi 32-34 cm
4)      Lingkar kepala bayi 33-35 cm
5)      Bunyi jantung dalam menit pertama ±180 kali/menit disertai pernapasan cuping hidung, retraksi suprasternal dan interkostal, serta rintihan henya berlangsung 10-15 menit.
6)      Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup terbentuk dan dipalpisi verniks kaseosa
7)      Rambut lanugo telah hilang, rambut kepala tumbuh baik.
8)      Kuku telah agak panjang dan lemas
9)      Genetalia: testis sudah turun (pada bayi laki-laki) dan labia mayora telah menutupi labia minora (pada bayi perempuan).
10)  Reflex isap, menelan, dan moro telah terbentuk.
11)  Eliminasi, urin, dan mekonium normalnya keluar pada 24 jam  pertama. Mekonium memiliki karakteristik hitam kehijauan dan lengket (Sondakh, 2013, h. 150)

b.      Penilaian Bayi Waktu Lahir
Nilai Apgar adalah satu sistem penilaian yang dipakai untuk mengevaluasi bayi baru lahir pada menit pertama dan kelima setelah kelahirannya.
Tabel. 2.6 Penilaian Keadaan Umum Bayi Berdasarkan Nilai APGAR

0
1
2
Appearance (warna kulit)
Pucat
Badan merah ekstremitas biru
Seluruh tubuh kemerah-merahan
Pulse rate (frekuensi nadi)
Tidak ada
Kurang dari 100
Lebih dari 100
Grimace (reaksi rangsang)
Tidak ada
Sedikit gerakan mimik (grimace)
Batuk/bersin
Activity (tonus otot)
Tidak ada
Ekstremitas dalam sedikit fleksi
Gerakan aktif
Respiration (pernapasan)
Tidak ada
Lemah/tidak teratur
Baik/menangis
                       
                                    Sumber: Sondakh, 2013, h.158)

Klasifikasi klinik:
1.      Nilai 7-10: bayi normal
2.      Nilai 4-6 : bayi asfiksia ringan sampai sedang
3.      Nilai 0-3: bayi asfiksia berat
c.       Asuhan kebidanan pada bayi baru lahir
a)      Cara memotong tali pusat
1)      Menjepit tali pusat dengan klem jarak 3 cm dari pusat, lalu mengurut tali pusat kearah ibu dan memasang klem ke-2 dengan jarak 2 cm dari klem.
2)      Memegang tali pusat diantara 2 klem dengan menggunakan tangan kiri (jari tengah melindungi tubuh bayi) lalu memotong tali pusat diantara 2 klem
3)      Mengikat tali pusat dengan jarak 1 cm dari umbilicus dengan simpul mati lalu mengikat balik tali pusat dengan simpul mati. Untuk kedua kalinya bungkus dengan kassa steril, lepaskan klem pada tali pusat, lalu memasukannya dalam wadah yang berisi larutan klorin 0,5 %.
4)      Membungkus bayi dengan kain bersih dan memberikannya kepada ibu.

b. Mempertahankan suhu tubuh BBL dan mencegah hipotermi
1) Mengeringkan tubuh bayi dengan tubuh basah karena air ketuban atau aliran udara melalui jendela/pintu yang terbuka akan mempercepat terjadinya penguapan yang akan mengakibatkan bayi lebih cepat kehilangan suhu tubuh. Hal ini akan mengakibatkan serangan dingin (cold stress) yang merupakan gejala awal hipotermia. Bayi kedinginan biasanya tidak memperlihatkan gejala menggigil oleh karena control suhunya belum sempurna.
2) Untuk mencegah terjadinya hipotermia, bayi yang baru lahir harus segera dikeringkan dan dibungkus dengan kain kering kemudian diletakkan telungkup diatas dada ibu untuk mendapatkan kehangatan dekapan ibu.
3)  Menunda memandikan BBL sampai tubuh bayi stabil
Pada BBL cukup bulan dengan berat benda lebih dari 2.500 gram dan menangis kuat bias memandikan 24 jam setelah kelahiran dengan tetap menggunakan air hangat. Pada BBL beresiko yang berat badannya kurang dari 2.500 gram keadaannya sangat lemah sebaiknya jangan dimandikan sampai suhu tubuhya stabil.
4)      Menghindari kehilangan panas bayi baru lahir
Ada empat cara yang membuat bayi kehilangan panas yaitu melalui radiasi, evaporasi, konduksi, dan konveksi. (Dewi,2013, h:3-4)

d.      Adaptasi fisiologi BBL terhadap kehidupan di luar uterus
a)      Adaptasi pernafasan
Pernafasan awal dipicu oleh factor fisik, sensorik, dan kimia.
1)      Factor-faktor fisik meliputi usaha yang diperlukan untuk mengembangkan paru-paru dan mengisi alveolus yang kolaps (misalnya dalam gradient tekanan)
2)      Factor-faktor sensorik, meliputi suhu, bunyi, cahaya, suara dan penurunan suhu.
3)      Factor-faktor kimia, meliputi perubahan dalam darah (misalnya, penurunan kadar oksigen, peningktan kadar karbondioksida, dan penurunan PH) sebagai akibat asfiksia sementara selama kelahiran
4)      Frekuensi pernafasan bayi baru lahir berkisar30-60 kali/menit
5)      Sekresi lender mulut dapat menyebabkan bayi batuk dan muntah, terutama pada 1-18 jam pertama.
6)      bayi baru lahir lazimnya bernafas melalui hidung. Respon reflex terhadap obstruksi nasal dan membuka mulut untuk mempertahankan jalan nafas tidak ada pada sebagian besar bayi sampai 3 minggu setelah kelahiran
b) adaptasi kardiovaskuler
1) berbagai perubahan anatomi berlangsung setelah lahir. Perubahan terjadi cepat, dan sebagian lagi seiring waktu
2) sirkulasi perifer lambat, yang menyebabkan akroasianosis (pada tangan , kaki, dan sekitar mulut)
3) denyut nadi berkisar 120-160 kali/menit saat tidur
4) rata-rata tekanan darah adalah 80/46 mmHg dan bervariasi sesuai dengan ukuran dan tingkat akifitas bayi.


c) Perubahan termoregulasi dan metabolic
1)            Suhu bayi baru lahir dapat turun beberapa derajat karena lingkungan eksternal lebih dingin daripad lingkunagn pada uterus. suplai lemak subkutan yang terbatas dan area permukaan kulit yang besar dibandingkan dengan berat badab yang menyebabkan bayi mudah menghantarkan panas pada ingkungan.
2)            kehilangan panas yang cepat dalam lingkungan yang dingin terjadi melalui konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi.
3)            trauma dingin (hipotermi) pada bayi baru lair dalam hubungan dengan asidosis metabolic dapat bersifat mematikan bahkan pada bayi cukup bulan yang sehat

d) Adaptasi neurologis
1)      Sistem neurologisbayi secara anatomi atau fisiologi belum berkembang sempurna
2)      Bayi baru lahir menunjukkan gerakan-gerakan tidak terkoordinasi, pengaturan suhu yang labil, control otot yang buruk, mudak terkejut dan tremor pada ekstermitas.
3)      Perkembangan neonates terjadi cepat. Saat bayi tumbuh, perilaku yang lebih kompleks misalnya control kepala, senyum, meraih dengan tujuan akan berkembang.
4)      Reflex bayi baru lahir merupakan indkator penting perkembangan normal.
( sondakh,2013 h:153).

e.    Mekanisme kehilangan panas
Berikut ini adalah penjelasan lengkap tentang empat mekanisme kemungkinan hilangnya panas tubuh dari bayi baru lahir.
a.    Konduksi
Panas dihantarkan dari tubuh bayi k tubuh benda disekitarnya yang kontak langsung dengan tubuh bayi. (pemindahan panas dari tubuh bayi ke objek lain melalui kontak langsung). Contohnya adalah menimbang bayi tanpa alas timbangan, tangan penolong yang dingin memegang bayi baru lahir, menggunakan stestoskop dingin untuk pemeriksaan bayi baru lahir.
b.    Konveksi
Panas hilang dari bayi ke udara sekitarnya yang sedang bergerak (jumlah panas yang hilang tergantung pada kecepatan dan suhu udara).  Contohnya adalah membiarkan atau menempatkan bayi baru lahir dekat jendela, membiarkan bayi baru lahir di ruangan yang terpasang kipas angin.
c.    Radiasi
Panas dipancarkan dari bayi baru lahir, keluar tubuhnya ke lingkungan yang lebih dingin (pemindahan panas antar dua objek yang mempunyai suhu berbeda). Contohnya bayi dibiarkan diruangan ber AC tanpa diberikan pemanas

5.    MASA NIFAS
1)         Pengertian Masa Nifas
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas atau puerperium dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu.(Vivian, 2013, h. 1)
Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil). Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. (Sulistyawati, 2014, h. 1)



2)        Tahapan Masa Nifas
Beberapa tahapan masa nifas adalah sebagai berikut.
a.         Puerperium Dini
Yaitu kepulihan dimana ibu diperbolehkan berdiri dan berjalan, serta menjalankan aktivitas layaknya wanita normal lainnya.
b.  Puerperium Intermediate
Yaitu suatu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya sekitar 6-8 minggu.
c.  Puerperium Remote
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama apabila ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi.
(Vivian, 2013, h. 4)

3)   Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Pada kebijakan program nasional masa nifas paling sedikit 4 kali kunjungan yang dilakukan.
Hal ini untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir serta untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah-masalah yang terjadi antara lain sebagai berikut :
a.    6-8 jam setelah persalinan
1)   Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
2)   Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut.
3)   Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga mengenai bagaimana mencegah masa nifas karena atonia uteri.
4)   Pemberian ASI awal
5)   Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
6)   Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.

b.    6 hari setelah persalinan
1)   Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
2)   Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, dan perdarahan abnormal.
3)   Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan istirahat.
4)   Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
5)   Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi dan tali pusat, serta menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.

c.     2 minggu setelah persalinan
Memastikan rahim sudah kembali normal dengan mengukur dan meraba bagian rahim.
d.   6 minggu setelah persalinan
1)        Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami.
2)        Memberikan konseling untuk KB secara dini.
                        (Vivian, 2013, h. 5)
                                                                                                                       
4.        Perubahan Fisiologis Masa Nifas
a.     Perubahan sistem reproduksi
Pada uterus terjadi proses involusi. Proses involusi adalah proses kembalinya uterus kedalam sebelum hamil setelah melahirkan. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus.




Tabel 2.2 Lama TFU Involusi Uerus
Involusi
Tinggi Fundus Uteri
Berat Uterus (gr)
Diameter Bekas Melekat Plasenta (cm)
Keadaan Servik
Bayi lahir
Setinggi pusat
1000
-
-
Uri lahir
2 jari dibawah pusat
750
12,5
Lembek
Satu minggu
Pertengahan pusat-simfisis
500
7,5
Beberapa hari setelah postpartum dapat dilalui 2 jari akhir minggu pertama dapat dimasuki 1 jari
Dua minggu
Tidak teraba di atas simfisis 
350
3-4
Enam minggu
Bertambah kecil
50-60
1-2
Delapan minggu
Sebesar normal
30
-

(Dewi,2013 h:37)

a.      Perubahan pada serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks postpartum adalah bentuk serviks yang akan menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan serviks uteri terbentuk semacam cincin. Warna serviks sendiri merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah.

Beberapa hari setelah persalinan, OUE dapat dilalui oleh 2 jari pinggir-pinggirnya tidak rata, tetapi retak-retak karena robekan dalam persalinan. Pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui oleh 1 jari saja dan lingkaran retraksi berhubungan dengan bagian atas dari kanalis servikalis.

Pada serviks terbentuk sel-sel otot baru yang mengakibatkan serviks memanjang seperti celah. Walaupun begitu, setelah involusi selesai, ostium eksternum tidak serupa dengan keadaannya sebelum hamil. Pada umumnya ostium eksternum lebih besar dan tetap terdapat retak-retak dan robekan pada pinggirnya, terutama pada pinggir sampingnya. Oleh karena robekan kesamping ini terbentuklah bibir depan dan bibir belakang pada serviks.
(Dewi,2013 h :58)

b.      Lokia
Lokia adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat organisme berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada pada vagina normal. Lokia mempunyai bau yang amis meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. Secret mikroskopik lokia terdiri atas eritrosit, peluruhan desidua, sel epitel, dan bekteri. Lokia mengalami perubahan karena proses involui. Pengeluaran lokia dapat dibagi berdasarkan waktu dan warnanya diantaranya sebagai berikut :


1)   Lokhea rubra/merah
Lokhea ini keluar pada hari pertama sampai hari ke-4 masa post partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena terisi darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi) dan mekonium. Lokhea ini terjadi dari1-3 hari post partum.
2)   Lokhea sanguinolenta
Lokhea ini berwarna merah kecokelatan dan berlendir, serta berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 post partum.

3)   Lokhea serosa
Lokhea ini berwarna kuning kecokelatan karena mengandung serum, leukosit, dan robekan atau laserasi plasenta. Keluar pada hari ke-7 sampai ke-14.
4)   Lokhea alba/putih
Lokhea ini mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir serviks, dan serabut jaringan yang mati. Lokhea alba ini dapat berlangsung selama 2-6 minggu post partum.
(Sulistyawati, 2014, h. 76)


c.    Perubahan Tanda-Tanda Vital
Berikut ini adalah perubahan tanda-tanda vital, diantaranya :
1)   Suhu badan
Suhu hari (24 jam) post partum suhu badan akan naik sedikit (37,5-380 C) sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan. Apabila keadaan normal suhu badan akan biasa. Biasanya pada hari ke-3 suhu badan naik lagi menjadi karena ada pembentukan ASI dan payudara menjadi bengkak, berwarna merah karena banyaknya ASI.


2)   Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 x/menit, sehabis melahirkan biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat.
3)   Tekanan darah
Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah melahirkan karena ada perdarahan. Tekanan darah tinggi pada postpartum dapat menandakan terjadinya pre eklampsia postpartum.
4)   Pernafasan
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi, bila suhu naik tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran nafas.
(Vivian, 2013, h. 55-60)

5.         Kebutuhan Dasar Ibu Nifas
a.    Nutrisi dan Cairan
1)   Kebutuhan kalori selama menyusui proporsional dengan jumlah air susu ibu yang dihasilkan dan lebih tinggi selama menyusui dibanding selama hamil. Rata-rata kandungan kalori ASI yang dihasilkan ibu dengan nutrisi baik adalah 70 kal/100 ml dan kira-kira 85 kal diperlukan oleh ibu untuk tiap 100 ml yang dihasilkan.
Rata-rata ibu menggunakan 640 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510 kal/hari selama 6 bulan kedua untuk menghasilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu harus mengkonsumsi 2300-2700 kal ketika menyusui.
2)   Ibu memerlukan tambahan 20 gr protein diatas kebutuhan normal ketika menyusui. Jumlah ini hanya 16% dari tambahan 500 kal yang dianjurkan. Protein diperlukan untuk pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang rusak atau mati.
3)   Nutrisi lain yang diperlukan selam laktasi adalah asupan cairan. Ibu menyusui minum 2-3 liter/hari dalam bentuk air putih, susu dan cairan jus buah (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui). Mineral, air dan vitamin digunakan untuk melindungi tubuh dari serangan penyakit dan mengatur kelancaran metabolisme didalam tubuh. Sumber zat pengatur tersebut bisa diperoleh dari semua jenis sayuran buah-buahan segar.
4)   Pil zat besi (Fe) harus diminum, untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin.
5)   Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) sebanyak 2 kali yaitu pada satu jam setelah melahirkan dan 24 jam setelahnya agar dapat memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI. Kekurangan gizi pada ibu menyusui dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada ibu dan bayinya. Gangguan pada bayi meliputi proses tumbuh kembang anak, bayi mudah sakit, dan mudah terkena infeksi. Kekurangan zat-zat esensial menimbulkan gangguan pada mata atau tulang.
b.  Ambulasi
Pada masa lampau, perawatan puerpurium sangat konservatif, dimana purperal harus tidur terlentang selama 40 hari kini perawatan
Puerpurium lebih aktif dengan dianjurkan untuk melakukan mobilisasi dini.
Perawatan mobilisasi dini mempunyai keuntungan, yaitu sebagai berikut.
1)   Melancarkan pengeluaran lokia, mengurangi infeksi  puerpurium
2)   Mempercepat involusi uterus
3)   Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat kelamin
4)   Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.
(Vivian, 2013, h. 71-72).

c.  Eliminasi
Buang air sendiri sebaiknya dilakukan secepatnya. Miksi normal bila dapat BAK spontan setiap 3-4 jam. Kesulitan BAK dapat disebabkan karena spingter uretra tertekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulo spingter ani selama persalinan, atau dikarenakan oedema kandung kemih selama persalinan. Lakukan kateterisasi apabila kandung kemih penuh dan sulit berkemih.

Ibu diharapkan dapat BAB sekitar 3-4 hari post partum. Apabila mengalami kesulitan BAB/obstipasi, lakukan diet teratur, cukup cairan, konsumsi makanan berserat, olahraga, berikan obat rangsangan per oral/per rectal atau lakukan klisma bilamana perlu.

d.  Kebersihan diri dan perineum
Kebersihan diri berguna untuk mengurangi infeksi dan meningkatkan perasaan nyaman. Kebersihan diri meliputi kebersihan tubuh, pakaian, tempat tidur maupun lingkungan. Beberapa hal yang dapat dilakukan ibu post partum dalam menjaga kebersihan diri, adalah sebagai berikut :
1)   Mandi teratur minimal 2 kali sehari
2)   Mengganti pakaian dan alas tempat tidur
3)   Menjaga lingkungan sekitar tempat tidur
4)   Melakukan perawatan perineum
5)   Mengganti pembalut minimal 2 kali sehari
6)   Mencuci tangan setiap membersihkan daerah genetalia



d.   Istirahat
Ibu post partum sangat membutuhkan istirahat yang berkualitas untuk memulihkan kembali keadaan fisiknya. Keluarga disarankan untuk memberikan kesempatan kepada ibu untuk beristirahat yang cukup sebagai persiapan untuk energi menyusui bayinya nanti.
Kurang istirahat pada ibu post partum akan mengakibatkan beberapa kerugian, misalnya:
1)        Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi.
2)        Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan.
3)        Menyebabkan depresi dan ketidaknyamanan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
(Sulistyawati, 2014, h.103).

6.    KELUARGA BERENCANA
1.    Pengertian KB
Keluarga berencana adalah menjamin tiap individu dan pasangannya memiliki informasi dan pelayanan untuk merencanakan saat, jumlah dan jarak kehamilan. (Prawirohardjo, 2014, h. 23)
Program KB adalah bagian yang terpadu (integral) dalam program pembangunan nasional dan bertujuan untuk, menciptakan kesejahteraan ekonomi, spiritual, dan sosial budaya penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan produksi nasional. (Setiyaningrum, 2014, h. 1).

2.    Tujuan Program KB
Tujuan program KB secara filosofis adalah :
a.    Meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia.
b.    Terciptanya penduduk yang berkualitas, sumber daya manusia yang bermutu dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
(Setyaningrum, 2014, h. 2)

3.    Sasaran Program KB
Sasaran program KB dibagi menjadi 2 yaitu sasaran langsung dan sasaran tidak langsung tergantung dari tujuan yang ingin dicapai. Sasaran langsungnya adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran dengan cara penggunaan kontrasepsi secara berkelanjutan. Sedangkan sasaran tidak langsungnya adalah pelaksana dan pengelola KB, dengan tujuan menurunkan tingkat kelahiran melalui pendekatan kebijaksanaan kependudukan terpadu dalam rangka mencapai keluarga yang berkualitas, keluarga sejahtera. (Setyaningrum, 2014, h. 2)

4.    Ruang Lingkup Program KB
Ruang lingkup Program KB meliputi :
a.    Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE)
b.    Konseling
c.    Pelayanan Kontrasepsi
d.   Pelayanan Infertilitas
e.    Pendidikan Sex (sex education)
f.     Konsultasi pra perkawinan dan konsultasi perkawinan
g.    Konsultasi genetik
h.    Tes keganasan
i.      Adopsi.
 (Setyaningrum, 2015, h. 3).

5.    Macam-Macam Metode Kontrasepsi
a) Metode Sederhana
Metode sederhana dibagi menjadi dua yaitu tanpa alat dan dengan alat. Adapun metode tanpa alat adalah sebagai berikut :
Metode sederhana tanpa alat yaitu :
1.    Metode Kalender
2.    Metode pantang berkala
3.    Metode suhu basal
4.    Metode lender serviks
5.    Metode simtomtermal
6.    Koitus interuptus
Metode sederhana dengan alat diantaranya :
1.    Kondom
2.    Barier intravagina
3.    Spermisida

b)       Metode modern
Kontrasepsi hormonal
1.      Kontrasepsi oral
a)    Manfaat :
a.          Memiliki efektifitas yang tinggi
b.          Siklus haid menjadi teratur
c.          Tidak mengganggu hubungan seksual
d.         Mudah dihentikan setiap saat
e.         Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil dihentikan
f.         Dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi darurat

b)      Keterbatasan
a.         Mahal dan membosankan karena harus menggunakannya setiap hari
b.        Mual terutama pada tiga bulan pertama
c.         Perdarahan bercak atau perdarahan sela, teruama pada tiga bulan pertama
d.        Pusing
e.         Nyeri payudara
f.         Berat badan naik sedikit
g.        Dapat mengurangi produksi ASI
h.        Dapat meningkatkan tekanan darah dan retensi cairan



c)      Kontraindikasi :
a.          Kehamilan
b.          Tromboflebitis
c.          Gangguan tromboemboli
d.         Cedera serebrovaskular
e.          Perdarahan genetalia abnormal
f.           Karsinoma payudara
g.      Sakit kepala migraine klasik
h.      Diabetes mellitus

2.      Suntik/injeksi
a)      Keuntungan :
a.      Sangat efektif
b.     Pencegahan kehamilan jangka panjang
c.      Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
d.     Efek samping sedikit
e.      Menurunkan krisis anemia bulan sabit

b)      Keterbatasan :
a.    Gangguan haid
b.    Klien sangat bergantung pada sarana pelayanan kesehatan
c.    Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikutnya
d.   Meningkatkan berat badan
e.    Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian penggunaan

3.      Subkutis/implant
a)      Keuntungan :
a.    Daya guna tinggi
b.    Perlindungan jangka panjang
c.    Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan
d.   Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
e.    Tidak mengganggu produksi ASI

b)      Keterbatasan :
a.      Nyeri kepala
b.     Peningkatan/penurunan berat badan
c.      Nyeri payudara
d.     Perasaan mual
e.      Pening/pusing kepala
f.   Membutuhkan tindakan pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan

4.      IUD/AKDR
b)   Daya guna
Daya guna teoritis dan daya guna pemakaian hamper sama (1-5 kehamilan per 100 wanita pertahun). Kegagalan lebih rendah pada AKDR yang mengeluarkan tembaga atau hormone.
b)      Efek samping
a.       Nyeri pada waktu pemasangan
b.      Kejang rahim, terutama pada bulan-bulan pertama
c.       Nyeri pelviks

B.     Standar Pelayanan Kebidanan
1.      KunjunganAnte-natal Care (ANC) minimal ;
a.    Satu kali pada trimester I ( usia kehamilan 0-13 minggu)
b.    Satu kali pada trimester II ( usia kehamilan 14-27 minggu )
c.    Dua kali pada trimester III ( usia kehamilan 28-40 minggu )
2.      Standar Asuhan Kehamilan
a.    Standar 3 : Identifikasi ibu hamil
Melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat
b.    Standar 4 : Pemeriksaan dan pemantauan antenatal
Sedikitnya 4 kali pelayanan kehamilan pemeriksaan meliputi : Anamnesis dan pemantauan ibu dan janin, mengenal kehamilan resiko tinggi nasehat dan penyuluhan, mencatat data yang tepat setiap kunjungan, tindakan tepat untuk merujuk.
c.    Standar 5 : Palpasi abdominal
d.   Standar 6 : Pengelolaan anemia pada kehamilan
e.    Standar 7 : Pengelolaan dini hipertensi pada kehamilan
f.     Standar 8 : Persiapan persalinan.
(Sulistyawati, 2013, h. 4).

3.      Standar Minimal Asuhan Antenatal :”10 T”
a.    Menimbang berat badan
b.    Mengukur lingkar lengan atas (LILA)
c.    Mengukur tekanan darah
d.   Mengukur tinggi fundus uteri (TFU)
e.    Menghitung denyut jantung janin
f.     Menentukan presentasi janin
g.    Memberikan imunisasi tetanus toksoid
h.    Memberikan tablet tambah darah (Tablet besi (fe))
i.      Tes Hb
j.      Tatalaksana/penanganan kasus
                 (Astuti, 2017, h. 124-126).

Sebagai profesional bidan dalam melaksanakan prakteknya harus sesuai dengan standard pelayanan kebidanan yang berlaku. Standard mencerminkan norma, pengetahuan dan tingkat kinerja yang telah disepakati oleh profesi. Penerapan standard pelayanan akan sekaligus melindungi masyarakat karena penilaian terhadap proses dan hasil pelayanan dapat dilakukan atas dasar yang jelas. Kelalaian dalam praktek terjadi bila pelayanan yang diberikan tidak memenuhi standard dan terbukti membahayakan.(Marmi, 2014, h. 18).


C.    STANDAR ASUHAN KEBIDANAN
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 938/Menkes/SK/VII/2007 tentang Standar Asuhan Kebidanan.
1.      Pengertian Standar Asuhan Kebidanan
                               Standar asuhan kebidanan adalah acuan dalam proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang  dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan, mulai dari pengkajian, perumusan diagnosa dan atau masalah kebidanan, perencanaan, implementasi, evaluasi dan pencatatan asuhan kebidanan.

            STANDAR I : Pengkajian
a.          Pernyataan Standar
Bidan mengumpulkan semua informasi yang akurat, relevan dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
b.         Kriteria Pengkajian
1)   Data tepat, akurat, dan lengkap.
2)   Terdiri dari Data Subjektif hasil anamnesa ; biodata, keluhan utama, riwayat obstetri, riwayat kesehatan dan latar belakang sosial budaya.
3)   Data Objektif ( hasil pemeriksaan fisik, psikologi dan pemeriksaan penunjang).


STANDAR II : Perumusan Diagnosa dan/ atau Masalah Kebidanan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar