Rabu, 20 November 2019

BAB II Part 2


a.    Pernyataan standar
Bidan menganalisa data yang diperoleh pada pengkajian, menginterpretasikannya secara akurat dan logis untuk menegakkan diagnosa dan masalah kebidanan yang tepat.
b.    Kriteria Perumusan diagnosa dan/atau Masalah
1)   Diagnosa sesuai dengan nomenklatur kebidanan.
2)   Masalah dirumuskan sesuai dengan kondisi klien.
3)   Dapat diselesaikan dengan Asuhan Kebidanan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan.

STANDAR III : Perencanaan
a.          Pernyataan Standar
Bidan merencanakan asuhan kebidanan berdasarkan diagnosa, dan masalah yang ditegakkan.
b.         Kriteria Perencanaan
1)   Rencana tindakan asuhan berdasarkan prioritas masalah dan kondisi klien; tindakan segera, tindakan antisipasi, dan asuhan secara komprehensif.
2)   Melibatkan klie/dan/ atau keluarga.
3)   Mempertimbangkan kondisi psikologi, sosial budaya klien/keluarga.
4)   Memilih tindakan yang aman sesuai kondisi dan kebutuhan klien berdasarkan evidence based dan memastikan bahwa asuhan yang diberikan bermanfaat untuk klien.
5)   Mempertimbangkan kebijakan dan peraturan yang berlaku, sumber daya serta fasilitas yang ada.

STANDAR IV : Implementasi
a.    Pernyataan Standar
Bidan melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara komprehensif, efektif, dan aman berdasarkan evidence based kepada klien/pasien, dalam bentuk upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan.

b.    Kriteria
1)        Memperlihatkan keunikan klien sebagai makhluk bio-psiko-sosial-spiritual-kultura.
2)        Setiap tindakan asuhan harus mendapatkan persetujuan klien dan/atau keluarganya (inform consent).
3)        Melaksanakan tindakan asuhan berdasarkan evidence based.
4)        Melibatkan klien/pasien dalam setiap tindakan.
5)        Menjaga privasi klien/pasien.
6)        Melaksanakan prinsip pencegahan infeksi.
7)        Mengikuti perkembangan kondisi klien secara berkesinambungan.
8)        Menggunakan sumber daya, sarana, dan fasilitas yang ada.
9)        Melakukan tindakan sesuai standar.
10)    Mencatat semua tindakan yang telah dilakukan.

STANDAR V : Evaluasi
a.                    Pernyataan Standar
Bidan melakukan evaluasi secara sistematis dan berkesinambungan untuk melihat keefektifan dan asuhan yang sudah diberikan, sesuai dengan dengan perubahan perkembangan kondisi klien.

b.                   Kriteria Evaluasi
1)   Penilaian dilakukan segera setelah selesai melaksanakan asuhan sesuai kondisi klien.
2)   Hasil evaluasi segera dicatat dan dikomunikasikan pada klien dan/keluarga.
3)   Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar.
4)   Hasil evaluasi ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi klien/pasien.

STANDAR VI : Pencatatan Asuhan Kebidanan
a.         Pernyataan Standar
Bidan melakukan pencatatan secara lengkap, akurat, singkat dan jelas mengenai keadaan/kejadian yang ditemukan dan dilakukan dalam memberikan asuhan kebidanan.
b.         Kriteria Pencatatan Asuhan Kebidanan
1)   Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan pada formulir yang tersedia (Rekam medis/ KMSI status pasien/ buku KIA).
2)   Ditulis dalam bentuk catatan perkembangan SOAP.
3)   S adalah data subjektif, mencatat hasul anamnesa.
4)   O adalah data objektif, mencatat hasil pemeriksaan.
5)   A adalah hasil analisa, mencatat diagnosa dan masalah kebidanan.
6)   P adalah penatalaksanaan, mencatat seluruh perencanaan dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan secara komprehensif; penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi/ follow up dan rujukan.
(Susanti, 2015, h. 168-172).

A.    Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan, serta keterampilan dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang berfokus pada pasien (Varney, 1997).
Manajemen kebidanan terdiri atas tujuh langkah yang berurutan, diawali dengan pengumpulan data sampai dengan evaluasi. (Sulistyawati, 2013, h. 179)



1.         Kehamilan
                              I.         Pengkajian
a.    Data Subjektif
1)        Biodata
a)    Nama
Selain sebagai identitas, upayakan agar bidan memanggil dengan nama panggilan sehingga hubungan komunikasi antara bidan dan pasien menjadi lebih akrab. (Sulistyawati, 2013, h. 220)
b)   Usia
Data ini ditanyakan untuk menentukan apakah ibu dalam kehamilan beresiko karena usia atau tidak. (Sulistyawati, 2013, h. 220)
c)    Agama
Tanyakan pilihan agama klien dan berbagai praktik terkait agama yang harus diobservasi. Informasi ini dapat menuntun ke suatu diskusi tentang pentingnya agama dalam kehidupan klien, tradisi keagamaan dalam kehamilan dan kelahiran. (Marmi, 2014, h. 155)
d)   Suku
Data ini berhubungan dengan sosial budaya yang dianut oleh pasien dan keluarga yang berkaitan dengan kehamilan. (Sulistyawati, 2013, h. 221)


e)    Pendidikan
Tanyakan pendidikan tertinggi yang klien tamatkan juga informasi ini membantu klinis memahami klien sebagai individu dan memberi gambaran kemampuan baca tulisnya. (Marmi, 2014, h. 155)
f)    Pekerjaan
Mengetahui pekerjaan klien adalah penting untuk mengetahui apakah klien berada dalam keadaan utuh dan untuk mengkaji potensi kelainan premature dan pajanan bahaya lingkungan kerja, yang dapat merusak janin. (Marmi, 2014, h. 155)
g)   Alamat
Dapatkan informasi tentang tempat tinggal klien, seberapa kali ia pindah, seperti apa rumahnya, jumlah individu, keadaan lingkungan. (Marmi, 2014, h. 155)
2)        Keluhan Utama
Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. (Sulistyawati, 2013, h. 181)
3)        Kunjungan Kehamilan
Semua kunjungan antenatal memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menghindari komplikasi pada kehamilan dan persalinan.
Kunjungan antenatal pada kehamilan trimester ketiga dilakukan minimal dua kali, yaitu usia kehamilan 30-32 minggu dan satu kali lagi antara usia kehamilan 36-38 minggu. Namun demikian, sejumlah literatur menyebutkan bahwa frekuensi kunjungan antenatal dapat dianjurkan setiap bulan pada usia kehamilan 12-28 minggu, setiap 2 minggu pada usia kehamilan 28-36 minggu, dan setiap minggu sampai bayi lahir. (Astuti, 2017, h. 133)

4)        Riwayat Kebidanan
a) Menarche
Menarche adalah usia pertama kali mengalami menstruasi. Wanita Indonesia pada umumnya mengalami menarche sekitar 12 sampai 16 tahun. (Sulistyawati, 2013, h. 181)
b) Siklus
Siklus menstruasi adalah jarak antara menstruasi yang dialami dengan menstruasi berikutnya, dalam hitungan hari. Biasanya sekitar 23 sampai 32 hari. (Sulistyawati, 2013, h. 181)
c) Menentukan Usia Kehamilan dan Hari Perkiraan Persalinan
Cara menentukan usia kehamilan, ada dua cara yang dapat dilakukan guna menentukan usia kehamilan, yaitu sebagai berikut :
(1)     Menggunakan suatu alat khusus (skala yang sudah disesuaikan)
(2)     Menggunakan cara manual (menghitung). (Sulistyawati, 2013, h. 52).
d) Gangguan Kesehatan Alat Reproduksi
Data ini sangat penting untuk dikaji karena akan memberikan petunjuk bagi kita tentang organ reproduksi pasien. Ada beberapa penyakit organ reproduksi yang berkaitan erat dengan personal higiene pasien, atau kebiasaan lain yang tidak mendukung kesehatan reproduksinya. Beberapa data yang perlu dikaji dari pasien adalah apakah pasien pernah mengalami gangguan seperti keputihan, infeksi, gatal karena jamur, dan tumor. (Sulistyawati, 2013, h. 182)

5)        Riwayat Kesehatan
Data dari riwayat kesehatan dapat kita gunakan sebagai “penanda” (warning) akan adanya masa hamil. Adanya perubahan fisik dan fisiologis pada masa hamil yang melibatkan seluruh sistem dalam tubuh akan mempengaruhi organ yang mengalami gangguan. Beberapa data penting tentang riwayat kesehatan yang perlu kita ketahui adalah apakah pasien pernah atau sedang menderita penyakit, seperti jantung, diabetes melitus (DM), ginjal, hipertensi/hipotensi, dan hepatitis. (Sulistyawati, 2013, h. 182-183)

6)        Pola Makan
Ini penting untuk diketahui supaya kita mendapatkan gambaran bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya selama hamil, beberapa hal yang perlu untuk ditanyakan adalah :
a) Menu
Kita dapat menanyakan pada pasien tentang apa saja yang ia makan dalam sehari (nasi, sayur, lauk, buah, makanan selingan, dan lain-lain).
b) Frekuensi
Data ini memberi petunjuk bagi kita tentang seberapa banyak asupan makanan yang dikonsumsi ibu.
c) Jumlah perhari
Data ini memberikan volume atau seberapa banyak makanan yang ibu makan dalam waktu satu kali makan.
d) Pantangan
Ini juga penting untuk kita kaji karena ada kemungkinan pasien berpantang makanan justru pada makanan yang sangat mendukung pemulihan fisiknya, misalnya daging, ikan, atau telur. (Sulistyawati, 2013, h. 183-184)



7)        Pola Istirahat
Istirahat sangat diperlukan oleh ibu hamil. Oleh karena itu, bidan yang perlu menggali kebiasaan istirahat ibu supaya diketahui hambatan yang mungkin muncul jika didapatkan data yang senjang tentang pemenuhan kebutuhan istirahat.
Bidan dapat menanyakan tentang berapa lama ia tidur di malam hari dan siang hari.
a) Istirahat malam hari
Rata-rata lama tidur malam yang normal adalah 6-8 jam.
b) Istirahat siang hari
Tidak semua wanita mempunyai kebiasaan tidur siang. Oleh karena itu, hal ini dapat kita sampaikan kepada ibu bahwa tidur siang sangat penting untuk menjaga kesehatan selama hamil.
(Sulistyawati, 2013, h. 184)

8)        Aktivitas sehari-hari
Kita perlu mengkaji aktivitas sehari-hari pasien karena data ini memberikan gambaran tentang seberapa berat aktivitas yang biasa dilakukan pasien di rumah. Jika kegiatan pasien terlalu berat sampai dikhawatirkan dapat menimbulkan penyulit masa hamil, maka kita dapat memberikan peringatan sedini mungkin kepada pasien untuk membatasi dahulu kegiatannya sampai ia sehat dan pulih kembali. Aktivitas yang terlalu berat dapat menyebabkan abortus dan persalinan premature. (Sulistyawati, 2013, h. 184)

Informasi tentang pola hidup sehat klien akan bermanfaat untuk mengidentifikasi bidang pendidikan kesehatan yang butuhkan, baik saat ini maupun pada masa pascapartum. (Marmi, 2014, h. 156)


9)                  Personal Higiene
Data ini perlu dikaji bagaimanapun, kebersihan akan mempengaruhi kesehatan pasien dan janinnya. Jika pasien mempunyai kebiasaan yang kurang baik dalam perawatan kebersihan dirinya, maka bidan harus dapat memberi bimbingan cara perawatan kebersihan diri dan bayinya sedini mungkin. Beberapa kebiasaan yang dilakukan dalam perawatan kebersihan diri diantaranya adalah sebagai berikut :

a) Mandi
Kita dapat menanyakan kepada pasien beberapa kali ia mandi dalam sehari dan kapan waktunya (jam berapa mandi pagi dan sore).
b) Keramas
Pada beberapa wanita ada yang kurang peduli dengan kebersihan rambutnya karena mereka beranggapan keramas tidak begitu berpengaruh terhadap kesehatan. Jika kita menemukan pasien yang seperti ini, maka kita harus memberikan pengertian kepadanya bahwa keramas harus selalu dilakukan ketika rambut kotor, karena bagian kepala yang kotor merupakan tempat yang mudah menjadi sumber infeksi.
c) Ganti baju dan celana dalam
Ganti baju minimal sekali dalam sehari, sedangkan celana dalam minimal dua kali. Namun jika sewaktu-waktu baju dan celana dalam sudah kotor, sebaiknya segera diganti tanpa harus menunggu waktu untuk ganti berikutnya.
d) Kebersihan kuku
Kuku ibu hamil harus ada selalu dalam keadaan pendek dan bersih. Kuku selain merupakan tempat yang mudah untuk bersarangnya kuman sumber infeksi, juga dapat menyebabkan trauma pada kulit bayi jika terlalu panjang.
(Sulistyawati, 2013, h. 185)

10)           Respon Ayah Terhadap Kehamilan Ini
Untuk mengetahui bagaimana respon ayah terhadap kehamilan ini kita dapat menanyakan langsung kepada suami pasien atau dapat juga kepada pasien sendiri. Data mengenai respon ayah ini sangat penting karena dapat kita jadikan sebagai salah satu acuan mengenai bagaimana pola kita dalam memberikan asuhan kepada pasien dan bayinya. Jika suami pasien memberikan respon yang positif terhadap isteri dan anaknya , maka akan memberikan kemudahan bagi kita untuk melibatkannya dalam memberikan perawatan. (Sulistyawati, 2013, h. 187)




b.    Data Objektif
1)        Keadaan Umum
Setelah data subjektif kita dapatkan, untuk melengkapi data kita dalam menegakkan diagnosa, maka kita harus melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi yang dilakukan secara berurutan.
Langkah-langkah pemeriksaannya sebagai berikut :
a) Keadaan Umum
Untuk mengetahui data ini kita cukup dengan mengamati keadaan pasien secara keseluruhan.
 Hasil pengamatan kita laporkan dengan kriteria sebagai berikut :
(1)     Baik
Jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan.
(2)     Lemah
Pasien dimasukkan dalam kriteria ini jika ia kurang atau tidak memberikan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien tidak mampu berjalan sendiri. (Sulistyawati, 2013, h. 188-189)

2)        Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita dapat melakukan pengkajian tingkat kesadaran mulai dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar). (Sulistyawati, 2013, h. 189)

3)        Pemeriksaan Umum
a) Tekanan Darah
Pengukuran tekanan darah setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk mendeteksi adanya hipertensi (tekanan darah 140/90 mmHg) pada kehamilan pre-eklampsia (hipertensi disertai edema pada wajah dan/atau tungkai bawah, dan/atau proteinuria). (Astuti, 2017, h. 124)
b) Pernafasan
Untuk dapat memenuhi oksigen ibu dan menyediakan kebutuhan oksigen janin, maka sistem respirasi mengadakan perubahan serta adaptasi. (Astuti, 2017, h. 85)
c) Suhu
Karena adanya peningkatan metabolisme maka suhu tubuh akan meningkat tidak lebih dari 0,5-10C. (Sulistyawati, 2013, h.67)
d) Nadi
Denyut nadi maternal sedikit meningkat selama masa hamil, tetapi jarang melebihi 100 denyut per menit. (Marmi, 2014, h. 206)

4)        Berat Badan
a) Indeks Masa Tubuh
Cara yang dipakai untuk menentukan berat badan menurut tinggi badan adalah dengan menggunakan indeks masa tubuh (IMT) dengan rumus berat badan dibagi tinggi badan pangkat 2. Contoh, wanita dengan berat badan sebelum hamil 51 kg dan tinggi badan 1,57 meter. Maka IMT-nya adalah 51/(1,57)2 = 20,7.

Nilai IMT mempunyai rentang sebagai berikut.
19,8-26,6 : normal
<19,8 : underweight
26,6-29,0 : overweight
>29,0 : obese
(Sulistyawati, 2013, h. 68)
Perkiraan peningkatan berat badan yang dianjurkan yaitu 4 kg pada kehamilan trimester I, 0,5 kg/minggu pada kehamilan trimester II sampai III, totalnya sekitar 15-16 kg. (Sulistyawati, 2013, h. 69)
5)        Tinggi Badan
Tubuh yang pendek dapat menjadi indikator gangguan genetik, karenatinggi yang pasti sering kali tidak diketahui dan tinggi badan berubah seiring peningkatan usia wanita, tinggi badan harus diukur pada saat kunjungan awal. (Marmi, 2014, h. 163)
6)        LILA
Pengukuran LILA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk mendeteksi ibu hamil yang beresiko KEK. Kurang energi kronis yang dimaksud yaitu ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama (beberapa bulan/tahun) yaitu LILA <23,5 cm. Ibu hamil dengan KEK akan dapat melahirkan bayi berat lahir rendah. (Astuti, 2013, h. 124).
7)        Menentukan HPL
Untuk menentukan HPL biasanya rumus Neagle, yaitu sebagi berikut : HPL = HPHT + 7 hari – 3 bulan. (Sulistyawati, 2013, h. 53).
8)        Pemeriksaan Fisik
(a)      Muka
Adakah chloasma gravidarum, keadaan selaput mata pucat atau merah, adakah oedema pada muka, bagaimana keadaan lidah dan gigi. (Marmi, 2014, h. 166)
(b)     Mata
Konjungtiva, sklera, kebersihan, kelainan, gangguan penglihatan(rabun jauh/dekat). (Sulistyawati, 2013, h. 189)
(c)      Hidung
Kebersihan, polip dan alergi debu. (Sulistyawati, 2013, h. 189)
(d)     Mulut
Kebersihan, karies, gangguan pada mulut(bau mulut). (Sulistyawati, 2013, h. 190)
(e)      Telinga
Kebersihan dan gangguan pendengaran. (Sulistyawati, 2013, h. 189)
(f)      Leher
Adakah vena terbendung di leher (misalnya pada penyakit jantung), apakah kelenjar gondok membesar atau kelenjar limfe membengkak. (Marmi, 2014, h. 166)
(g)     Payudara
Bentuk buah dada, pigmentasi puting susu, dan gelanggang susu, keadaan puting susu, adakah colostrum. (Marmi, 2014, h. 166).
(h)     Abdomen
Pemeriksaan abdomen di pertengahan awal kehamilan harus dilakukan secara menyeluruh jika kondisi uterus yang membesar memungkinkan. Evaluasi adanya nyeri tekan, massa, hernia, pembesaran hati, dan kelenjar getah bening. Seiring kemajuan kehamilan, semakin sulit meraba orang lain selain uterus. Perhatian khusus pada abdomen wanita hamil meliputi denyut jantung, tinggi fundus dan presentasi janin. (Marmi, 2014, h. 166)
(i)       Ekstremitas
Pemeriksaan ekstremitas harus mencakup pengkajian refleks tendon dalam, pemeriksaan adanya edema tungkai dan vena verikosa, dan pemeriksaan ukuran tangan dan kaki, bentuk, serta letak jari tangan dan jari kaki. Kelainan menunjukkan kelainan genetik. (Marmi, 2014, h. 170)

9)        Pemeriksaan penunjang
(a)      Pemeriksaan Panggul
Persalinan dapat berlangsung dengan baik atau tidak antara lain tergantung pada luasnya jalan lahir yang terutama ditentukan oleh bentuk dan ukuran-ukuran panggul. Maka untuk meramalkan apakah persalinan dapat berlangsung biasa, pengukuran panggul diperlukan. (Marmi, 2014, h. 171)
(b)     Pemeriksaan Haemoglobin
Haemoglobin darah diubah menjadi asam hematin dengan pertolongan larutan HCl, lalu kadar dari asam hematin ini diukur dengan membandingkan warna yang terjadi dengan warna standar memakai mata biasa. (Marmi, 2014, h. 181)
(c)      Pemeriksaan Urine
Terjadi endapan protein jika direaksikan dengan asam. (Marmi, 2014, h. 185)


               II.          Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis, dan kebutuhan pasien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Langkah awal dari perumusan diagnosis atau masalah pengolahan data dan analisis dengan menggabungkan data satu dengan lainnya sehingga tergambar fakta. (Sulistyawati, 2013, h. 191)

          III.          Merumuskan Diagnosis/Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain berdasarkan rangkaian masalah yang lain juga. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegaha, sambil terus mengamati kondisi klien. Bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosis atau masalah potensial benar-benar terjadi. (Sulistyawati, 2013 , h. 195)

         IV.          Mengidentifikasi dan Menetapkan Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera
Dalam pelaksanaannya terkadang bidan dihadapkan pada beberapa situasi yang memerlukan penanganan segera (emergensi) dimana bidan harus segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan paisen, namun kadang juga berada pada situasi pasien yang memerlukan tindakan segera sementara menunggu instruksi dokter, atau bahkan mungkin juga situasi pasien yang memerlukan konsultasi dengan tim kesehatan lain. Disini bidan sangat dituntut kemampuannya untuk dapat selalu melakukan evaluasi keadaan pasien agar asuhan yang diberikan tepat dan aman. (Sulistyawati, 2013, h. 196)

              V.          Merencanakan Asuhan kebidanan
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh berdasarkan langkah sebelumnya. Semua perencanaan yang dibuat harus berdasarkan pertimbangan yang tepat, meliputi pengetahuan, teori yang up to date, perawatan berdasarkan bukti (evidance based care), serta divalidasikan dengan asumsi mengenai apa yang diinginkan dan tidak diinginkan oleh pasien. Dalam menyusun perencanaan sebaiknya pasien dilibatkan, karena pada akhirnya pengambilan keputusan dalam melaksanakan suatu rencana asuhan harus disetujui oleh paisen. (Sulistyawati, 2013, h. 196)

         VI.          Pelaksanaan Asuhan Kebidanan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kelima kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Realisasi dari perencanaan dapat dilakukan oleh bidan, pasien, atau anggota keluarga yang lain. Jika bidan tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tanggung jawab atas terlaksananya seluruh perencanaan. (Sulistyawati, 2013, h. 199)

    VII.          Evaluasi
Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang kita berikan kepada pasien. (Sulistyawati, 2013, h. 200)
2.         Persalinan
a.       Pertolongan Persalinan Pada tanggal 28 Juli 2018
I.       Pengkajian
a)    Keluhan Utama
(1)     Terjadinya his permulaan
Pada saat hamil muda sering terjadi kontraksi bracton hick yang kadang dirasakan keluhan karena rasa sakit yang ditimbulkan. Biasanya pasien mengeluh adanya rasa sakit dipinggang dan terasa sangat mengganggu, terutama pada pasien dengan ambang rasa sakit yang rendah. Adanya perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron menyebabkan oksitosin semakin meningkat dan dapat kontraksi atau his permulaan.
His permulaan ini sering diistilahkan sebagai his palsu dengan ciri-ciri sebagai berikut.
(a)  Rasa nyeri ringan dibagian bawah.
(b)  Datang tidak teratur.
(c)  Tidak ada perubahan pada serviks atau tidak ada tanda-tanda kemajuan persalinan.
(d) Durasi pendek
(e) Tidak bertambah bila beraktivitas
(Sulistyawati, 2013, h. 6)

Dasar Diagnosis ketuban pecah dini tidak sulit ditegakkan dengan keterangan terjadi pengeluaran cairan mendadak disertai bau yang khas. (Manuaba, 2014, h. 283)

(2)     Pola Nutrisi
Pada pertengahan sampai akhir kala I biasanya pasien akan sangat membutuhkan cairan, bukan makanan. Disamping pasien sudah tidak berselera lagi untuk makan karena rasa sakit akibat his, juga karena pengeluaran keringat yang bertambah sehingga membutuhkan pemasukan cairan lebih banyak.
(Sulistyawati, 2013, h. 223)

b)  Data Objektif
(1) Tekanan Darah
Tekanan darah akan meningkat selama kontraksi, disertai peningkatan sistol rata-rata 15-20 mmHg dan diastol rata-rata 5-10 mmHg. (Sulistyawati, 2013, h. 66)
(2) Nadi
Frekuensi denyut nadi diantara kontraksi sedikit lebih tinggi dibanding selama periode menjelang persalinan. Hal ini mencerminkan peningkatan metabolisme yang terjadi selama persalinan. (Sulistyawati, 2013, h. 67)
(3) Suhu
Karena adanya peningkatan metabolisme maka suhu tubuh akan meningkat selama persalinan. Selama dan setelah persalinan akan terjadi peningkatan tidak lebih dari 0,5-10C. (Sulistyawati, 2013, h. 67)
(4) Pernapasan
Sedikit peningkatan frekuensi pernapasan dianggap normal selama persalinan tersebut mencerminkan peningkatan metabolisme. Meskipun sulit untuk memperoleh temuan yang akurat mengenai frekuensi pernapasan, karena sangat dipengaruhi oleh rasa senang, nyeri, rasa takut, dan penggunaan teknik pernapasan. (Sulistyawati, 2013, h. 68)
c)  Pemeriksaan Abdomen
Pemeriksaan abdomen bertujuan untuk menentukan tinggi fundus uteri, memantau kontraksi uterus, memantau denyut jantung janin, menentukan presentasi,dan menentukan penurunan bagian terbawah janin.  (Sondakh, 2013, h.107)
d)  Memantau Kontraksi Uterus
Tanda masuk dalam persalinan, terjadinya his persalinan karakter dari his persalinan adalah pinggang terasa sakit menjalar kedepan, sifat his teratur, interval makin pendek dan kekuatan makin besar, terjadinya perubahan pada serviks, jika pasien menambah aktvitasnya, misalnya dengan berjalan, maka kekuatannya bertambah pengeluaran lendir dan darah (penanda persalinan), dengan adanya his persalinan, terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan pendataran dan pembukaan, pembukaan menyebabkan selaput lendir yang terdapat pada kanalis servikalis terlepas, terjadi perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah. (Sulistyawati, 2013, h. 7)
e)  Denyut Jantung Janin
Pemeriksaan denyut jantung janin (DJJ) dilakukan setiap 30 menit. Dengarkan DJJ selama minimal 60 detik, dengarkan sampai sedikitnya selama 30 detik setelah kontraksi berakhir. Sebaiknya penilaian DJJ dilakukan pada lebih dari satu kontraksi.
Apabila terjadi gangguan kondisi kesehatan janin, umumnya dicerminkan dari DJJ yang kurang dari 100 atau lebih dari 160 permenit. (Sondakh, 2013, h. 108)
f)  Pemeriksaan Dalam
Pembukaan serviks diperiksa setiap 4 jam. (Rohani, 2013, h. 101)

g)  Kala I
Kala I dimulai dari saat persalinan mulai (pembukaan nol) sampai pembukaan lengkap (10 cm). Proses ini terbagi dalam 2 fase, yaitu:
1)      Fase laten : berlangsung selama 8 jam, serviks membuka sampai 3 cm.
2)      Fase aktif : berlangsung selama 7 jam, serviks membuka dari 4 cm sampai 10 cm, kontraksi lebih kuat dan sering, dbagi dalam 3 fase
3)      Fase akselerasi : dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.
4)      Fase dilatasi maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm.
5)      Fase deselerasi : pembukaan menjadi lambat sekali, dalam waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi lengkap.
Proses diatas terjadi pada primigravida ataupun multigravida, tetapi pada multigravida memiliki jangka waktu yang lebih pendek. Pada primigravida, kala I berlangsung 12 jam, sedangkan pada multigravida  8 jam. (Sondakh, 2013, h. 5)
h)  Kala II
Lamanya kala II pada primigravida 1,5-2 jam dan multigravida 1,5-1 jam. (Sondakh, 2013, h. 6)
Beberapa kriteria pasien sudah dalam persalinan kala II yaitu merasa ingin meneran dan biasanya sudah tidak bisa menahannya, perineum menonjol, merasa seperti ingin buang air besar, lubang vagina dan sfingter ani membuka, jumlah pengeluaran air ketuban meningkat (jika ketuban sudah pecah). (Sulistyawati, 2013, h. 115)
i)  Kala III
Kala III dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit. (Sondakh, 2013, h. 6)

j)  Kala IV
Kala IV dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam postpartum. Kala ini terutama bertujuan untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum paling sering terjadi pada 2 jam pertama. Darah yang keluar selama perdarahan harus ditakar sebaik-baiknya. Kehilangan darah pada persalinan biasanya disebabkan oleh luka pada saat pelepasan plasenta dan robekan pada serviks dan perineum. Rata-rata jumlah perdarahan yang dikatakan normal adalah 250 cc, biasanya 100-300 cc. (Sondakh, 2013, h. 7)



3.         Nifas
a. Keluhan Utama
Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Misalnya, ibu postpartum normal ingin memeriksakan kesehatannya setelah persalinan. (Sulistyawati, 2013, h. 111)
Kebijakan Program Masa Nifas, pada pengkajian ini paling sedikit 4 kali kunjungan yang dilakukan, hal ini untuk menilai status ibu dan bayi serta untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah yang terjadi. Berikut jadwal kunjungan 6-8 jam, 6 hari, 2 minggu, dan 6 minggu. Tahapan Masa Nifas yaitu puerpurium dini, puerpurium intermediate, dan remote puerpurium. (Vivian, 2013, h. 5)
a.    Kepercayaan Yang Berhubungan Dengan Nifas
Untuk mendapatkan data ini bidan perlu melakukan pendekatan terhadap keluarga pasien, terutama orang tua. Hal penting yang biasanya mereka anut kaitannya dengan masa nifas adalah menu makanan ibu nifas. (Sulistyawati, 2013, h. 121)
b.    Keadaan Umum
Untuk mengetahui data ini, bidan perlu mengamati keadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan akan bidan laporkan dengan kriteria :
1) Baik
Jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan.
1)   Lemah
Pasien dimasukkan dalam kriteria ini jika ibu kurang atau tidak memberikan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, jika pasien tidak mampu berjalan sendiri. (Sulistyawati, 2014, h. 122)
c.    Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadarn pasien, kita dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan coma (pasien tidak dalam keadaan sadar). (Sulistyawati, 2014, h. 122)
d.   Tanda Tanda Vital
1) Tekanan Darah
Tekanan darah biasanya tidak berubah. Kemungkinan tekanan darah akan lebih rendah setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan.
1)   Suhu
Dalam satu hari (24 jam) postpartum, suhu badan akan naik sedikit (37,50C-380C) sebagai akibat kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan. Apabila keadaan normal, suhu badan menjadi biasa. Biasanya, pada hari ke 3 suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI.
2)   Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa adalah 60-80x/menit. Denyut nadi sehabis melahirkan biasanya akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100x/menit adalah abnormal dan hal ini menunjukan adanya kemungkinan infeksi.

3)   Pernapasan
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan suhu dan denyut nadi. Bila suhu tidak normal maka pernafasan juga akan mengikutinya. (Sulistyawati, 2014, h. 80-81)
e.    Pemeriksaan Fisik
1) Payudara
Pada pemeriksaan payudara yang perlu diperiksa adalah bentuk, gangguan, ASI, keadaan puting, dan kebersihan. (Sulistyawati, 2014, h. 124)
2) Abdomen
Pada bagian abdomen, yang dilakukan pemeriksaan adalah bentuk, striae, linea, kontraksi uterus, dan TFU. (Sulistyawati, 2014, h. 124)
3) Genetalia
Pada pemeriksaan alat genetalia, pemeriksaan yang dilakukan adalah kebersihan, pegeluaran pervaginam, kedaan luka jahitan, tanda-tanda infeksi.
(a)  Pengeluaran Pervaginam
1)  Lokhea rubra/merah
Lokhea ini keluar pada hari pertama sampai hari ke-4 masa post partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena terisi darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi) dan mekonium.
2)   Lokhea sanguinolenta
Lokhea ini berwarna merah kecokelatan dan berlendir, serta berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 post partum.
3)   Lokhea serosa
Lokhea ini berwarna kuning kecokelatan karena mengandung serum, leukosit, dan robekan atau laserasi plasenta. Keluar pada hari ke-7 sampai ke-14.
4)   Lokhea alba/putih
Lokhea ini mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir serviks, dan serabut jaringan yang mati. Lokhea alba ini dapat berlangsung selama 2-6 minggu post partum.
(Sulistyawati, 2014, h. 76)

4.         KB
a.     Waktu Pemasangan
                   Sebelum 6 minggu pascapersalinan, klien menyusui dapat menggunakan kontrasepsi progestin, bila kontrasepsi lain tidak tersedia atau ditolak. (KKb,2013, h. U 53)
b. Penyakit Gynekologi
Riwayat penyakit atau kelainan ginekologi serta pengobatannya dapat memberi keterangan penting, terutama operasi yang pernah dialami. Apabila penderita pernah diperiksa oleh dokter lain, tanyakan juga hasil-hasil pemeriksaan dan pendapat dokter. (Marmi, 2014, h. 159)
c.  Riwayat KB
Selain kontrasepsi yang pernah digunakan, perlu pula ditanyakan tentang rencana kontrasepsi yang akan datang. (Astuti, 2017, h. 121)
d.  Tanda Tanda Vital
Untuk mengetahui kondisi kesehatan secara umum, tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan, dan suhu tubuh. (Astuti, 2017, h. 135)

B.     Landasan Hukum Kewenangan Bidan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1464/MENKES/PER/X1/2010 Tentang Izin Dan Penyelenggaraan Praktik Bidan Dengan Rahmat TuhanYang Maha Esa Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (Susanti, 2015, h. 175).



Sumber : Fatimah, 2019


Tidak ada komentar:

Posting Komentar