a.
Pernyataan standar
Bidan
menganalisa data yang diperoleh pada pengkajian, menginterpretasikannya secara
akurat dan logis untuk menegakkan diagnosa dan masalah kebidanan yang tepat.
b.
Kriteria Perumusan
diagnosa dan/atau Masalah
1)
Diagnosa sesuai dengan
nomenklatur kebidanan.
2)
Masalah dirumuskan
sesuai dengan kondisi klien.
3)
Dapat diselesaikan
dengan Asuhan Kebidanan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan.
STANDAR
III : Perencanaan
a.
Pernyataan Standar
Bidan
merencanakan asuhan kebidanan berdasarkan diagnosa, dan masalah yang
ditegakkan.
b.
Kriteria Perencanaan
1)
Rencana tindakan asuhan
berdasarkan prioritas masalah dan kondisi klien; tindakan segera, tindakan
antisipasi, dan asuhan secara komprehensif.
2)
Melibatkan klie/dan/
atau keluarga.
3)
Mempertimbangkan kondisi
psikologi, sosial budaya klien/keluarga.
4)
Memilih tindakan yang
aman sesuai kondisi dan kebutuhan klien berdasarkan evidence based dan
memastikan bahwa asuhan yang diberikan bermanfaat untuk klien.
5)
Mempertimbangkan
kebijakan dan peraturan yang berlaku, sumber daya serta fasilitas yang ada.
STANDAR
IV : Implementasi
a. Pernyataan
Standar
Bidan
melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara komprehensif, efektif, dan aman
berdasarkan evidence based kepada klien/pasien, dalam bentuk upaya promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif. Dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi dan
rujukan.
b.
Kriteria
1)
Memperlihatkan keunikan
klien sebagai makhluk bio-psiko-sosial-spiritual-kultura.
2)
Setiap tindakan asuhan
harus mendapatkan persetujuan klien dan/atau keluarganya (inform consent).
3)
Melaksanakan tindakan
asuhan berdasarkan evidence based.
4)
Melibatkan klien/pasien
dalam setiap tindakan.
5)
Menjaga privasi
klien/pasien.
6)
Melaksanakan prinsip
pencegahan infeksi.
7)
Mengikuti perkembangan
kondisi klien secara berkesinambungan.
8)
Menggunakan sumber
daya, sarana, dan fasilitas yang ada.
9)
Melakukan tindakan
sesuai standar.
10)
Mencatat semua tindakan
yang telah dilakukan.
STANDAR V : Evaluasi
a.
Pernyataan Standar
Bidan
melakukan evaluasi secara sistematis dan berkesinambungan untuk melihat
keefektifan dan asuhan yang sudah diberikan, sesuai dengan dengan perubahan
perkembangan kondisi klien.
b.
Kriteria Evaluasi
1)
Penilaian dilakukan
segera setelah selesai melaksanakan asuhan sesuai kondisi klien.
2)
Hasil evaluasi segera
dicatat dan dikomunikasikan pada klien dan/keluarga.
3)
Evaluasi dilakukan
sesuai dengan standar.
4)
Hasil evaluasi
ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi klien/pasien.
STANDAR
VI : Pencatatan Asuhan Kebidanan
a.
Pernyataan Standar
Bidan
melakukan pencatatan secara lengkap, akurat, singkat dan jelas mengenai
keadaan/kejadian yang ditemukan dan dilakukan dalam memberikan asuhan
kebidanan.
b.
Kriteria Pencatatan
Asuhan Kebidanan
1)
Pencatatan dilakukan
segera setelah melaksanakan asuhan pada formulir yang tersedia (Rekam medis/
KMSI status pasien/ buku KIA).
2)
Ditulis dalam bentuk
catatan perkembangan SOAP.
3)
S adalah data
subjektif, mencatat hasul anamnesa.
4)
O adalah data objektif,
mencatat hasil pemeriksaan.
5)
A adalah hasil analisa,
mencatat diagnosa dan masalah kebidanan.
6)
P adalah penatalaksanaan,
mencatat seluruh perencanaan dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti
tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan secara komprehensif;
penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi/ follow up dan rujukan.
(Susanti,
2015, h. 168-172).
A.
Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah proses
pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran
dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan, serta keterampilan dalam
rangkaian/tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang berfokus pada
pasien (Varney, 1997).
Manajemen kebidanan terdiri atas tujuh
langkah yang berurutan, diawali dengan pengumpulan data sampai dengan evaluasi.
(Sulistyawati, 2013, h. 179)
1.
Kehamilan
I.
Pengkajian
a.
Data Subjektif
1)
Biodata
a)
Nama
Selain
sebagai identitas, upayakan agar bidan memanggil dengan nama panggilan sehingga
hubungan komunikasi antara bidan dan pasien menjadi lebih akrab. (Sulistyawati,
2013, h. 220)
b)
Usia
Data
ini ditanyakan untuk menentukan apakah ibu dalam kehamilan beresiko karena usia
atau tidak. (Sulistyawati, 2013, h. 220)
c)
Agama
Tanyakan
pilihan agama klien dan berbagai praktik terkait agama yang harus diobservasi.
Informasi ini dapat menuntun ke suatu diskusi tentang pentingnya agama dalam
kehidupan klien, tradisi keagamaan dalam kehamilan dan kelahiran. (Marmi, 2014,
h. 155)
d)
Suku
Data
ini berhubungan dengan sosial budaya yang dianut oleh pasien dan keluarga yang
berkaitan dengan kehamilan. (Sulistyawati, 2013, h. 221)
e)
Pendidikan
Tanyakan
pendidikan tertinggi yang klien tamatkan juga informasi ini membantu klinis
memahami klien sebagai individu dan memberi gambaran kemampuan baca tulisnya.
(Marmi, 2014, h. 155)
f)
Pekerjaan
Mengetahui
pekerjaan klien adalah penting untuk mengetahui apakah klien berada dalam
keadaan utuh dan untuk mengkaji potensi kelainan premature dan pajanan bahaya
lingkungan kerja, yang dapat merusak janin. (Marmi, 2014, h. 155)
g)
Alamat
Dapatkan
informasi tentang tempat tinggal klien, seberapa kali ia pindah, seperti apa
rumahnya, jumlah individu, keadaan lingkungan. (Marmi, 2014, h. 155)
2)
Keluhan Utama
Keluhan
utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan
kesehatan. (Sulistyawati, 2013, h. 181)
3)
Kunjungan Kehamilan
Semua
kunjungan antenatal memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menghindari
komplikasi pada kehamilan dan persalinan.
Kunjungan
antenatal pada kehamilan trimester ketiga dilakukan minimal dua kali, yaitu
usia kehamilan 30-32 minggu dan satu kali lagi antara usia kehamilan 36-38
minggu. Namun demikian, sejumlah literatur menyebutkan bahwa frekuensi
kunjungan antenatal dapat dianjurkan setiap bulan pada usia kehamilan 12-28
minggu, setiap 2 minggu pada usia kehamilan 28-36 minggu, dan setiap minggu
sampai bayi lahir. (Astuti, 2017, h. 133)
4)
Riwayat Kebidanan
a)
Menarche
Menarche
adalah usia pertama kali mengalami menstruasi. Wanita Indonesia pada umumnya
mengalami menarche sekitar 12 sampai 16 tahun. (Sulistyawati, 2013, h. 181)
b)
Siklus
Siklus
menstruasi adalah jarak antara menstruasi yang dialami dengan menstruasi
berikutnya, dalam hitungan hari. Biasanya sekitar 23 sampai 32 hari.
(Sulistyawati, 2013, h. 181)
c)
Menentukan Usia Kehamilan dan Hari Perkiraan Persalinan
Cara
menentukan usia kehamilan, ada dua cara yang dapat dilakukan guna menentukan
usia kehamilan, yaitu sebagai berikut :
(1)
Menggunakan suatu alat
khusus (skala yang sudah disesuaikan)
(2)
Menggunakan cara manual
(menghitung). (Sulistyawati, 2013, h. 52).
d)
Gangguan Kesehatan Alat Reproduksi
Data
ini sangat penting untuk dikaji karena akan memberikan petunjuk bagi kita
tentang organ reproduksi pasien. Ada beberapa penyakit organ reproduksi yang
berkaitan erat dengan personal higiene pasien, atau kebiasaan lain yang tidak
mendukung kesehatan reproduksinya. Beberapa data yang perlu dikaji dari pasien
adalah apakah pasien pernah mengalami gangguan seperti keputihan, infeksi,
gatal karena jamur, dan tumor. (Sulistyawati, 2013, h. 182)
5)
Riwayat Kesehatan
Data
dari riwayat kesehatan dapat kita gunakan sebagai “penanda” (warning) akan
adanya masa hamil. Adanya perubahan fisik dan fisiologis pada masa hamil yang
melibatkan seluruh sistem dalam tubuh akan mempengaruhi organ yang mengalami
gangguan. Beberapa data penting tentang riwayat kesehatan yang perlu kita
ketahui adalah apakah pasien pernah atau sedang menderita penyakit, seperti
jantung, diabetes melitus (DM), ginjal, hipertensi/hipotensi, dan hepatitis.
(Sulistyawati, 2013, h. 182-183)
6)
Pola Makan
Ini
penting untuk diketahui supaya kita mendapatkan gambaran bagaimana pasien
mencukupi asupan gizinya selama hamil, beberapa hal yang perlu untuk ditanyakan
adalah :
a)
Menu
Kita
dapat menanyakan pada pasien tentang apa saja yang ia makan dalam sehari (nasi,
sayur, lauk, buah, makanan selingan, dan lain-lain).
b)
Frekuensi
Data
ini memberi petunjuk bagi kita tentang seberapa banyak asupan makanan yang
dikonsumsi ibu.
c)
Jumlah perhari
Data
ini memberikan volume atau seberapa banyak makanan yang ibu makan dalam waktu
satu kali makan.
d)
Pantangan
Ini
juga penting untuk kita kaji karena ada kemungkinan pasien berpantang makanan
justru pada makanan yang sangat mendukung pemulihan fisiknya, misalnya daging,
ikan, atau telur. (Sulistyawati, 2013, h. 183-184)
7)
Pola Istirahat
Istirahat
sangat diperlukan oleh ibu hamil. Oleh karena itu, bidan yang perlu menggali
kebiasaan istirahat ibu supaya diketahui hambatan yang mungkin muncul jika
didapatkan data yang senjang tentang pemenuhan kebutuhan istirahat.
Bidan
dapat menanyakan tentang berapa lama ia tidur di malam hari dan siang hari.
a)
Istirahat malam hari
Rata-rata
lama tidur malam yang normal adalah 6-8 jam.
b)
Istirahat siang hari
Tidak
semua wanita mempunyai kebiasaan tidur siang. Oleh karena itu, hal ini dapat
kita sampaikan kepada ibu bahwa tidur siang sangat penting untuk menjaga
kesehatan selama hamil.
(Sulistyawati,
2013, h. 184)
8)
Aktivitas sehari-hari
Kita
perlu mengkaji aktivitas sehari-hari pasien karena data ini memberikan gambaran
tentang seberapa berat aktivitas yang biasa dilakukan pasien di rumah. Jika
kegiatan pasien terlalu berat sampai dikhawatirkan dapat menimbulkan penyulit
masa hamil, maka kita dapat memberikan peringatan sedini mungkin kepada pasien
untuk membatasi dahulu kegiatannya sampai ia sehat dan pulih kembali. Aktivitas
yang terlalu berat dapat menyebabkan abortus dan persalinan premature.
(Sulistyawati, 2013, h. 184)
Informasi tentang pola
hidup sehat klien akan bermanfaat untuk mengidentifikasi bidang pendidikan
kesehatan yang butuhkan, baik saat ini maupun pada masa pascapartum. (Marmi,
2014, h. 156)
9)
Personal Higiene
Data
ini perlu dikaji bagaimanapun, kebersihan akan mempengaruhi kesehatan pasien
dan janinnya. Jika pasien mempunyai kebiasaan yang kurang baik dalam perawatan
kebersihan dirinya, maka bidan harus dapat memberi bimbingan cara perawatan
kebersihan diri dan bayinya sedini mungkin. Beberapa kebiasaan yang dilakukan
dalam perawatan kebersihan diri diantaranya adalah sebagai berikut :
a)
Mandi
Kita
dapat menanyakan kepada pasien beberapa kali ia mandi dalam sehari dan kapan
waktunya (jam berapa mandi pagi dan sore).
b)
Keramas
Pada
beberapa wanita ada yang kurang peduli dengan kebersihan rambutnya karena
mereka beranggapan keramas tidak begitu berpengaruh terhadap kesehatan. Jika
kita menemukan pasien yang seperti ini, maka kita harus memberikan pengertian
kepadanya bahwa keramas harus selalu dilakukan ketika rambut kotor, karena
bagian kepala yang kotor merupakan tempat yang mudah menjadi sumber infeksi.
c)
Ganti baju dan celana dalam
Ganti
baju minimal sekali dalam sehari, sedangkan celana dalam minimal dua kali.
Namun jika sewaktu-waktu baju dan celana dalam sudah kotor, sebaiknya segera
diganti tanpa harus menunggu waktu untuk ganti berikutnya.
d)
Kebersihan kuku
Kuku
ibu hamil harus ada selalu dalam keadaan pendek dan bersih. Kuku selain
merupakan tempat yang mudah untuk bersarangnya kuman sumber infeksi, juga dapat
menyebabkan trauma pada kulit bayi jika terlalu panjang.
(Sulistyawati,
2013, h. 185)
10)
Respon Ayah Terhadap
Kehamilan Ini
Untuk
mengetahui bagaimana respon ayah terhadap kehamilan ini kita dapat menanyakan
langsung kepada suami pasien atau dapat juga kepada pasien sendiri. Data
mengenai respon ayah ini sangat penting karena dapat kita jadikan sebagai salah
satu acuan mengenai bagaimana pola kita dalam memberikan asuhan kepada pasien
dan bayinya. Jika suami pasien memberikan respon yang positif terhadap isteri
dan anaknya , maka akan memberikan kemudahan bagi kita untuk melibatkannya
dalam memberikan perawatan. (Sulistyawati, 2013, h. 187)
b.
Data Objektif
1)
Keadaan Umum
Setelah
data subjektif kita dapatkan, untuk melengkapi data kita dalam menegakkan
diagnosa, maka kita harus melakukan pengkajian data objektif melalui
pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi yang dilakukan secara
berurutan.
Langkah-langkah
pemeriksaannya sebagai berikut :
a)
Keadaan Umum
Untuk
mengetahui data ini kita cukup dengan mengamati keadaan pasien secara
keseluruhan.
Hasil pengamatan kita laporkan dengan kriteria
sebagai berikut :
(1) Baik
Jika
pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain,
serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan.
(2) Lemah
Pasien
dimasukkan dalam kriteria ini jika ia kurang atau tidak memberikan respon yang baik
terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien tidak mampu berjalan sendiri.
(Sulistyawati, 2013, h. 188-189)
2)
Kesadaran
Untuk
mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita dapat melakukan pengkajian
tingkat kesadaran mulai dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai
dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar). (Sulistyawati, 2013, h. 189)
3)
Pemeriksaan Umum
a)
Tekanan Darah
Pengukuran
tekanan darah setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk mendeteksi adanya
hipertensi (tekanan darah 140/90 mmHg) pada kehamilan pre-eklampsia (hipertensi
disertai edema pada wajah dan/atau tungkai bawah, dan/atau proteinuria).
(Astuti, 2017, h. 124)
b)
Pernafasan
Untuk
dapat memenuhi oksigen ibu dan menyediakan kebutuhan oksigen janin, maka sistem
respirasi mengadakan perubahan serta adaptasi. (Astuti, 2017, h. 85)
c)
Suhu
Karena
adanya peningkatan metabolisme maka suhu tubuh akan meningkat tidak lebih dari
0,5-10C. (Sulistyawati, 2013, h.67)
d)
Nadi
Denyut nadi maternal
sedikit meningkat selama masa hamil, tetapi jarang melebihi 100 denyut per
menit. (Marmi, 2014, h. 206)
4)
Berat Badan
a)
Indeks Masa Tubuh
Cara
yang dipakai untuk menentukan berat badan menurut tinggi badan adalah dengan
menggunakan indeks masa tubuh (IMT) dengan rumus berat badan dibagi tinggi
badan pangkat 2. Contoh, wanita dengan berat badan sebelum hamil 51 kg dan
tinggi badan 1,57 meter. Maka IMT-nya adalah 51/(1,57)2 = 20,7.
Nilai
IMT mempunyai rentang sebagai berikut.
19,8-26,6
: normal
<19,8
: underweight
26,6-29,0
: overweight
>29,0
: obese
(Sulistyawati,
2013, h. 68)
Perkiraan
peningkatan berat badan yang dianjurkan yaitu 4 kg pada kehamilan trimester I,
0,5 kg/minggu pada kehamilan trimester II sampai III, totalnya sekitar 15-16
kg. (Sulistyawati, 2013, h. 69)
5)
Tinggi Badan
Tubuh
yang pendek dapat menjadi indikator gangguan genetik, karenatinggi yang pasti
sering kali tidak diketahui dan tinggi badan berubah seiring peningkatan usia
wanita, tinggi badan harus diukur pada saat kunjungan awal. (Marmi, 2014, h.
163)
6)
LILA
Pengukuran
LILA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk mendeteksi ibu hamil yang
beresiko KEK. Kurang energi kronis yang dimaksud yaitu ibu hamil yang mengalami
kekurangan gizi dan telah berlangsung lama (beberapa bulan/tahun) yaitu LILA
<23,5 cm. Ibu hamil dengan KEK akan dapat melahirkan bayi berat lahir
rendah. (Astuti, 2013, h. 124).
7)
Menentukan HPL
Untuk
menentukan HPL biasanya rumus Neagle, yaitu sebagi berikut : HPL = HPHT + 7
hari – 3 bulan. (Sulistyawati, 2013, h. 53).
8)
Pemeriksaan Fisik
(a)
Muka
Adakah
chloasma gravidarum, keadaan selaput mata pucat atau merah, adakah oedema pada
muka, bagaimana keadaan lidah dan gigi. (Marmi, 2014, h. 166)
(b)
Mata
Konjungtiva, sklera,
kebersihan, kelainan, gangguan penglihatan(rabun jauh/dekat). (Sulistyawati,
2013, h. 189)
(c)
Hidung
Kebersihan,
polip dan alergi debu. (Sulistyawati, 2013, h. 189)
(d)
Mulut
Kebersihan,
karies, gangguan pada mulut(bau mulut). (Sulistyawati, 2013, h. 190)
(e)
Telinga
Kebersihan
dan gangguan pendengaran. (Sulistyawati, 2013, h. 189)
(f)
Leher
Adakah
vena terbendung di leher (misalnya pada penyakit jantung), apakah kelenjar
gondok membesar atau kelenjar limfe membengkak. (Marmi, 2014, h. 166)
(g)
Payudara
Bentuk
buah dada, pigmentasi puting susu, dan gelanggang susu, keadaan puting susu,
adakah colostrum. (Marmi, 2014, h. 166).
(h)
Abdomen
Pemeriksaan
abdomen di pertengahan awal kehamilan harus dilakukan secara menyeluruh jika
kondisi uterus yang membesar memungkinkan. Evaluasi adanya nyeri tekan, massa,
hernia, pembesaran hati, dan kelenjar getah bening. Seiring kemajuan kehamilan,
semakin sulit meraba orang lain selain uterus. Perhatian khusus pada abdomen
wanita hamil meliputi denyut jantung, tinggi fundus dan presentasi janin.
(Marmi, 2014, h. 166)
(i)
Ekstremitas
Pemeriksaan
ekstremitas harus mencakup pengkajian refleks tendon dalam, pemeriksaan adanya
edema tungkai dan vena verikosa, dan pemeriksaan ukuran tangan dan kaki,
bentuk, serta letak jari tangan dan jari kaki. Kelainan menunjukkan kelainan
genetik. (Marmi, 2014, h. 170)
9)
Pemeriksaan penunjang
(a) Pemeriksaan
Panggul
Persalinan dapat
berlangsung dengan baik atau tidak antara lain tergantung pada luasnya jalan
lahir yang terutama ditentukan oleh bentuk dan ukuran-ukuran panggul. Maka
untuk meramalkan apakah persalinan dapat berlangsung biasa, pengukuran panggul diperlukan.
(Marmi, 2014, h. 171)
(b) Pemeriksaan
Haemoglobin
Haemoglobin darah
diubah menjadi asam hematin dengan pertolongan larutan HCl, lalu kadar dari
asam hematin ini diukur dengan membandingkan warna yang terjadi dengan warna
standar memakai mata biasa. (Marmi, 2014, h. 181)
(c) Pemeriksaan
Urine
Terjadi endapan protein
jika direaksikan dengan asam. (Marmi, 2014, h. 185)
II.
Interpretasi Data Dasar
Pada
langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis, dan kebutuhan pasien
berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.
Langkah awal dari perumusan diagnosis atau masalah pengolahan data dan analisis
dengan menggabungkan data satu dengan lainnya sehingga tergambar fakta.
(Sulistyawati, 2013, h. 191)
III.
Merumuskan
Diagnosis/Masalah Potensial
Pada
langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain
berdasarkan rangkaian masalah yang lain juga. Langkah ini membutuhkan
antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegaha, sambil terus mengamati
kondisi klien. Bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosis atau masalah
potensial benar-benar terjadi. (Sulistyawati, 2013 , h. 195)
IV.
Mengidentifikasi dan
Menetapkan Kebutuhan yang Memerlukan Penanganan Segera
Dalam
pelaksanaannya terkadang bidan dihadapkan pada beberapa situasi yang memerlukan
penanganan segera (emergensi) dimana bidan harus segera melakukan tindakan
untuk menyelamatkan paisen, namun kadang juga berada pada situasi pasien yang
memerlukan tindakan segera sementara menunggu instruksi dokter, atau bahkan mungkin
juga situasi pasien yang memerlukan konsultasi dengan tim kesehatan lain.
Disini bidan sangat dituntut kemampuannya untuk dapat selalu melakukan evaluasi
keadaan pasien agar asuhan yang diberikan tepat dan aman. (Sulistyawati, 2013,
h. 196)
V.
Merencanakan Asuhan
kebidanan
Pada langkah ini
direncanakan asuhan yang menyeluruh berdasarkan langkah sebelumnya. Semua
perencanaan yang dibuat harus berdasarkan pertimbangan yang tepat, meliputi
pengetahuan, teori yang up to date, perawatan berdasarkan bukti (evidance
based care), serta divalidasikan dengan asumsi mengenai apa yang diinginkan
dan tidak diinginkan oleh pasien. Dalam menyusun perencanaan sebaiknya pasien
dilibatkan, karena pada akhirnya pengambilan keputusan dalam melaksanakan suatu
rencana asuhan harus disetujui oleh paisen. (Sulistyawati, 2013, h. 196)
VI.
Pelaksanaan Asuhan
Kebidanan
Pada
langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah
kelima kelima dilaksanakan secara efisien dan aman. Realisasi dari perencanaan
dapat dilakukan oleh bidan, pasien, atau anggota keluarga yang lain. Jika bidan
tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tanggung jawab atas terlaksananya
seluruh perencanaan. (Sulistyawati, 2013, h. 199)
VII.
Evaluasi
Untuk
mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang kita berikan kepada pasien.
(Sulistyawati, 2013, h. 200)
2.
Persalinan
a. Pertolongan
Persalinan Pada tanggal 28 Juli 2018
I. Pengkajian
a) Keluhan
Utama
(1)
Terjadinya his
permulaan
Pada saat hamil muda
sering terjadi kontraksi bracton hick yang kadang dirasakan keluhan karena rasa
sakit yang ditimbulkan. Biasanya pasien mengeluh adanya rasa sakit dipinggang
dan terasa sangat mengganggu, terutama pada pasien dengan ambang rasa sakit
yang rendah. Adanya perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron menyebabkan
oksitosin semakin meningkat dan dapat kontraksi atau his permulaan.
His
permulaan ini sering diistilahkan sebagai his palsu dengan ciri-ciri sebagai
berikut.
(a) Rasa nyeri ringan dibagian bawah.
(b) Datang tidak teratur.
(c) Tidak ada perubahan pada serviks atau tidak
ada tanda-tanda kemajuan persalinan.
(d)
Durasi pendek
(e) Tidak
bertambah bila beraktivitas
(Sulistyawati,
2013, h. 6)
Dasar Diagnosis ketuban
pecah dini tidak sulit ditegakkan dengan keterangan terjadi pengeluaran cairan
mendadak disertai bau yang khas. (Manuaba, 2014, h. 283)
(2)
Pola Nutrisi
Pada
pertengahan sampai akhir kala I biasanya pasien akan sangat membutuhkan cairan,
bukan makanan. Disamping pasien sudah tidak berselera lagi untuk makan karena
rasa sakit akibat his, juga karena pengeluaran keringat yang bertambah sehingga
membutuhkan pemasukan cairan lebih banyak.
(Sulistyawati,
2013, h. 223)
b) Data Objektif
(1)
Tekanan Darah
Tekanan darah akan
meningkat selama kontraksi, disertai peningkatan sistol rata-rata 15-20 mmHg
dan diastol rata-rata 5-10 mmHg. (Sulistyawati, 2013, h. 66)
(2)
Nadi
Frekuensi denyut nadi
diantara kontraksi sedikit lebih tinggi dibanding selama periode menjelang
persalinan. Hal ini mencerminkan peningkatan metabolisme yang terjadi selama
persalinan. (Sulistyawati, 2013, h. 67)
(3)
Suhu
Karena
adanya peningkatan metabolisme maka suhu tubuh akan meningkat selama
persalinan. Selama dan setelah persalinan akan terjadi peningkatan tidak lebih
dari 0,5-10C. (Sulistyawati, 2013, h. 67)
(4)
Pernapasan
Sedikit peningkatan
frekuensi pernapasan dianggap normal selama persalinan tersebut mencerminkan
peningkatan metabolisme. Meskipun sulit untuk memperoleh temuan yang akurat
mengenai frekuensi pernapasan, karena sangat dipengaruhi oleh rasa senang,
nyeri, rasa takut, dan penggunaan teknik pernapasan. (Sulistyawati, 2013, h.
68)
c) Pemeriksaan Abdomen
Pemeriksaan abdomen
bertujuan untuk menentukan tinggi fundus uteri, memantau kontraksi uterus,
memantau denyut jantung janin, menentukan presentasi,dan menentukan penurunan
bagian terbawah janin. (Sondakh, 2013,
h.107)
d) Memantau Kontraksi Uterus
Tanda masuk dalam
persalinan, terjadinya his persalinan karakter dari his persalinan adalah
pinggang terasa sakit menjalar kedepan, sifat his teratur, interval makin
pendek dan kekuatan makin besar, terjadinya perubahan pada serviks, jika pasien
menambah aktvitasnya, misalnya dengan berjalan, maka kekuatannya bertambah
pengeluaran lendir dan darah (penanda persalinan), dengan adanya his
persalinan, terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan pendataran dan
pembukaan, pembukaan menyebabkan selaput lendir yang terdapat pada kanalis
servikalis terlepas, terjadi perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah.
(Sulistyawati, 2013, h. 7)
e) Denyut Jantung Janin
Pemeriksaan denyut
jantung janin (DJJ) dilakukan setiap 30 menit. Dengarkan DJJ selama minimal 60
detik, dengarkan sampai sedikitnya selama 30 detik setelah kontraksi berakhir.
Sebaiknya penilaian DJJ dilakukan pada lebih dari satu kontraksi.
Apabila terjadi
gangguan kondisi kesehatan janin, umumnya dicerminkan dari DJJ yang kurang dari
100 atau lebih dari 160 permenit. (Sondakh, 2013, h. 108)
f) Pemeriksaan Dalam
Pembukaan serviks
diperiksa setiap 4 jam. (Rohani, 2013, h. 101)
g) Kala I
Kala I dimulai dari
saat persalinan mulai (pembukaan nol) sampai pembukaan lengkap (10 cm). Proses
ini terbagi dalam 2 fase, yaitu:
1) Fase
laten : berlangsung selama 8 jam, serviks
membuka sampai 3 cm.
2) Fase
aktif : berlangsung selama 7 jam, serviks
membuka dari 4 cm sampai 10 cm, kontraksi lebih kuat dan sering, dbagi dalam 3
fase
3) Fase
akselerasi : dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.
4) Fase
dilatasi maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat
dari 4 cm menjadi 9 cm.
5) Fase
deselerasi : pembukaan menjadi lambat sekali, dalam waktu 2 jam
pembukaan 9 cm menjadi lengkap.
Proses diatas terjadi
pada primigravida ataupun multigravida, tetapi pada multigravida memiliki
jangka waktu yang lebih pendek. Pada primigravida, kala I berlangsung
12 jam, sedangkan pada multigravida
8
jam. (Sondakh, 2013, h. 5)
h) Kala II
Lamanya kala II pada
primigravida 1,5-2 jam dan multigravida 1,5-1 jam. (Sondakh, 2013, h. 6)
Beberapa kriteria
pasien sudah dalam persalinan kala II yaitu merasa ingin meneran dan biasanya
sudah tidak bisa menahannya, perineum menonjol, merasa seperti ingin buang air
besar, lubang vagina dan sfingter ani membuka, jumlah pengeluaran air ketuban
meningkat (jika ketuban sudah pecah). (Sulistyawati, 2013, h. 115)
i) Kala III
Kala III dimulai segera
setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari
30 menit. (Sondakh, 2013, h. 6)
j) Kala IV
Kala IV dimulai dari
saat lahirnya plasenta sampai 2 jam postpartum. Kala ini terutama bertujuan
untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum paling sering terjadi
pada 2 jam pertama. Darah yang keluar selama perdarahan harus ditakar
sebaik-baiknya. Kehilangan darah pada persalinan biasanya disebabkan oleh luka
pada saat pelepasan plasenta dan robekan pada serviks dan perineum. Rata-rata
jumlah perdarahan yang dikatakan normal adalah 250 cc, biasanya 100-300 cc.
(Sondakh, 2013, h. 7)
3.
Nifas
a.
Keluhan Utama
Keluhan
utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan
kesehatan. Misalnya, ibu postpartum normal ingin memeriksakan kesehatannya
setelah persalinan. (Sulistyawati, 2013, h. 111)
Kebijakan
Program Masa Nifas, pada pengkajian ini paling sedikit 4 kali kunjungan yang
dilakukan, hal ini untuk menilai status ibu dan bayi serta untuk mencegah,
mendeteksi, dan menangani masalah yang terjadi. Berikut jadwal kunjungan 6-8
jam, 6 hari, 2 minggu, dan 6 minggu. Tahapan Masa Nifas yaitu puerpurium dini,
puerpurium intermediate, dan remote puerpurium. (Vivian, 2013, h. 5)
a.
Kepercayaan Yang
Berhubungan Dengan Nifas
Untuk
mendapatkan data ini bidan perlu melakukan pendekatan terhadap keluarga pasien,
terutama orang tua. Hal penting yang biasanya mereka anut kaitannya dengan masa
nifas adalah menu makanan ibu nifas. (Sulistyawati, 2013, h. 121)
b. Keadaan
Umum
Untuk mengetahui data
ini, bidan perlu mengamati keadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan
akan bidan laporkan dengan kriteria :
1) Baik
Jika
pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain,
serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan.
1) Lemah
Pasien
dimasukkan dalam kriteria ini jika ibu kurang atau tidak memberikan respon yang
baik terhadap lingkungan dan orang lain, jika pasien tidak mampu berjalan
sendiri. (Sulistyawati, 2014, h. 122)
c.
Kesadaran
Untuk
mendapatkan gambaran tentang kesadarn pasien, kita dapat melakukan pengkajian
derajat kesadaran pasien dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal)
sampai dengan coma (pasien tidak dalam keadaan sadar). (Sulistyawati,
2014, h. 122)
d. Tanda
Tanda Vital
1) Tekanan Darah
Tekanan
darah biasanya tidak berubah. Kemungkinan tekanan darah akan lebih rendah
setelah ibu melahirkan karena ada perdarahan.
1) Suhu
Dalam
satu hari (24 jam) postpartum, suhu badan akan naik sedikit (37,50C-380C)
sebagai akibat kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan.
Apabila keadaan normal, suhu badan menjadi biasa. Biasanya, pada hari ke 3 suhu
badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI.
2) Nadi
Denyut
nadi normal pada orang dewasa adalah 60-80x/menit. Denyut nadi sehabis melahirkan
biasanya akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100x/menit adalah
abnormal dan hal ini menunjukan adanya kemungkinan infeksi.
3) Pernapasan
Keadaan
pernafasan selalu berhubungan dengan suhu dan denyut nadi. Bila suhu tidak
normal maka pernafasan juga akan mengikutinya. (Sulistyawati, 2014, h. 80-81)
e. Pemeriksaan
Fisik
1) Payudara
Pada
pemeriksaan payudara yang perlu diperiksa adalah bentuk, gangguan, ASI, keadaan
puting, dan kebersihan. (Sulistyawati, 2014, h. 124)
2) Abdomen
Pada
bagian abdomen, yang dilakukan pemeriksaan adalah bentuk, striae, linea,
kontraksi uterus, dan TFU. (Sulistyawati, 2014, h. 124)
3)
Genetalia
Pada
pemeriksaan alat genetalia, pemeriksaan yang dilakukan adalah kebersihan,
pegeluaran pervaginam, kedaan luka jahitan, tanda-tanda infeksi.
(a) Pengeluaran Pervaginam
1)
Lokhea rubra/merah
Lokhea
ini keluar pada hari pertama sampai hari ke-4 masa post partum. Cairan yang
keluar berwarna merah karena terisi darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta,
dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi) dan mekonium.
2)
Lokhea sanguinolenta
Lokhea
ini berwarna merah kecokelatan dan berlendir, serta berlangsung dari hari ke-4
sampai hari ke-7 post partum.
3)
Lokhea serosa
Lokhea ini berwarna
kuning kecokelatan karena mengandung serum, leukosit, dan robekan atau laserasi
plasenta. Keluar pada hari ke-7 sampai ke-14.
4) Lokhea
alba/putih
Lokhea ini mengandung
leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir serviks, dan serabut jaringan
yang mati. Lokhea alba ini dapat berlangsung selama 2-6 minggu post partum.
(Sulistyawati,
2014, h. 76)
4.
KB
a. Waktu Pemasangan
Sebelum 6 minggu
pascapersalinan, klien menyusui dapat menggunakan kontrasepsi progestin, bila
kontrasepsi lain tidak tersedia atau ditolak. (KKb,2013, h. U 53)
b.
Penyakit Gynekologi
Riwayat penyakit atau
kelainan ginekologi serta pengobatannya dapat memberi keterangan penting,
terutama operasi yang pernah dialami. Apabila penderita pernah diperiksa oleh
dokter lain, tanyakan juga hasil-hasil pemeriksaan dan pendapat dokter. (Marmi,
2014, h. 159)
c. Riwayat KB
Selain
kontrasepsi yang pernah digunakan, perlu pula ditanyakan tentang rencana
kontrasepsi yang akan datang. (Astuti, 2017, h. 121)
d. Tanda Tanda Vital
Untuk
mengetahui kondisi kesehatan secara umum, tekanan darah, frekuensi nadi,
frekuensi pernapasan, dan suhu tubuh. (Astuti, 2017, h. 135)
B. Landasan
Hukum Kewenangan Bidan
Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1464/MENKES/PER/X1/2010 Tentang Izin
Dan Penyelenggaraan Praktik Bidan Dengan Rahmat TuhanYang Maha Esa Menteri
Kesehatan Republik Indonesia. (Susanti, 2015, h. 175).
Sumber : Fatimah, 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar